Minggu, 02 Agustus 2015

RICK DARI CORONA karya : W. S. Rendra

(Di Queens Plaza

di stasion trem bawah tanah

ada tulisan di satu temboknya:

“Rick dari Corona telah di sini.

Di mana engkau, Betsy?”)

 

Ya.

Rick dari Corona telah di sini.

Di mana engkau, Betsy?

 

 

- Akulah Betsy

Ini aku di sini.

Betsy Wong dari Jamaica.

Kakek buyutku dari Hongkong.

Suamiku penjaga elevator

Pedro Gonzales dari Puertorico

suka mabuk dan suka berdusta.

Kalau ingin ketemu, telpon saja aku.

Pagi hari aku kerja di pabrik roti

Selasa dan Kamis sore

aku miliknya Mickey Ragolsky

si kakek Polandia

yang membayar sewa kamarku.

Cobalah telpon hari Rabu.

Jangan kuatirkan suamiku.

Ia akan pura-pura tak tahu.

O, ya, sebelum lupa:

dua puluh dollar ongkosnya.

Betsyku bersih dan putih sekali

lunak dan halus bagaikan karet busa.

Rambutnya mewah tergerai

bagai berkas benang-benang rayon warna emas.

Dan kakinya sempurna.

Singsat dan licin

bagaikan ikan salmon

 

(Rick dari Corona

di perut kota New York

memandang kanan kiri

sambil minum jeruk soda)

 

Betsy.

Di mana engkau, Betsy?

 

- Ini, Betsy Hudson di sini.

aku merindukan alam hijau

tapi benci agraria.

Aku percaya pada dongeng aneka ragam

Aku percaya pada benua Atlantis.

Dan juga percaya bahwa hidup di bulan

lebih baik dari hidup di bumi.

Pada politik aku tak percaya.

Namaku Betsy.

Memang.

Tapi kita tak mungkin ketemu

Siang hari aku kerja jadi akuntan.

Malam hari aku suka nulis buku harian.               

 

Untuk merias diri

memelihara rambut dan kuku

telah pula memakan waktu.

Namaku Betsy.

Cantik

Aku suka telanjang di depan kaca.

Aku benci lelaki.

 

(Dengan mobil sport dari Inggris

Rick dari Corona

mengitari kota New York

berkacamata hitam sekali.

Melanggar aturan lalu lintas

ia disetop polisi

sambil masih mimpi siang hari)

 

Betsy gemerlapan bagai lampu-lampu Broadway.

Betsy terbang dengan indah.

Bau minyak wanginya menidurkan New York

Dan selalu sesudah itu

aku diselimutinya

dengan selimut katun

yang ditenunnya sendiri

Betsy, di mana engkau, Betsy.

 

- Di sini, bodoh!

Kau selalu tak mendengarkan aku, Ricky!

Kau selalu menciptakan kekusutan.

Sepatu tak pernah kauletakkan pada raknya.

Selalu kau pakai dasi yang kacau warnanya.

Berapa kali pula kau kuperingatkan

kalau tidur jangan mendengkur.

Itu barbar.

Dan Ricky!

Kau harus belajar makan sup yang lebih sopan!

 

(New York mengangkang.

Keras dan angkuh.

Semen dan baja.

Dingin dan teguh.

Adapun di tengah-tengah cahaya lampu gemerlapan

terdengar musik gelisah

yang tentu saja

tak berarti apa-apa)

 

Rick dari Corona telah di sini

Ya. Ya.

Betsy, engkau di mana?

-  Ricky, sayang, aku di sini.

   Ya. Ya.

+  Engkau hitam.

    Engkau bukan Betsy.

    Engkau macam Negro dari Harlem.

-   Pegang pinggulku

    Rasakan betapa lunak dan penuhnya.

    Namaku Betsy. Ya. Ya.

+  Gadisku selalu menjawab dengan sabar

    segala pertanyaanku yang bodoh dan sangsi.

-   Aku Betsy kerna aku Negro.

     Kerna aku Negro

     aku adalah tanggung jawabmu.

     Ya, namaku Betsy.

     Telah kuputuskan namaku Betsy

+   Apyun. Apyun.

     Aku hasratkan pengalaman mistis.

     Aku ingin melukis tubuhmu telanjang.

      sambil kuhisap mariyuana.

-    Ricky, sayang, engkau akan kuninabobokan.

     Dan bagai bayi akan kaupuja tetekku.

+   Dari Queens. Dari Brooklyn. Dan dari Manhattan….

-    Ricky, sayang, garudaku sayang.

+   Sebab irama combo, sebab buaian saxophone…

-    Pejamkan matamu.

      Dan bagaikan banyo

      mainkanlah aku

 

(Di Harlem, Manhattan, New York

di mana orang tinggal penuh sesak

di mana udara bau air kencing dan sampah

di musim panas dengan udara sembilan puluh lima drajat

para Negro menari watusi di tepi jalan

dan pada drajat ke seratus dua

terjadi perkelahian antara mereka).

 

Hallo. Hallo.

Di sini Rick dari Corona.

Dan Betsy juga di sini…

Hallo, Dokter.

Kami harus disuntik sekarang juga.

Kami kena rajasinga. 




=W. S. RENDRA=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar