Minggu, 02 Agustus 2015

BLUES UNTUK BONNIE karya : W. S. Rendra

Kota Bostron lusuh dan layu

kerna angin santer, udara jelek,

dan malam larut yang celaka.

Di dalam café itu

seorang penyanyi Negro tua

bergitar dan bernyanyi.

Hampir-hampir tanpa penonton.

Cuma tujuh pasang laki dan wanita

berdusta dan bercintaan di dalam gelap

mengepulkan asap rokok kelabu,

seperti tungku-tungku yang menjengkelkan.

 

Ia bernyanyi.

Suaranya dalam.

Lagu dan kata ia kawinkan

Lagu beranak seratus makna.

Georgia. Georgia yang jauh.

Di sana gubug-gubug kaum Negro.

Atap-atap yang bocor.

Cacing tanah dan pellagra

Georgia yang jauh disebut dalam nyanyinya.

 

Orang-orang berhenti bicara.

Dalam café tak ada suara.

Kecuali angin menggetarkan kaca jendela.

Georgia.

Dengan mata terpejam

si Negro menegur sepi.

Dan sepi menjawab

dengan sebuah tendangan jitu

tepat di perutnya.

 

Maka dalam blingsatan

ia bertingkah bagai gorilla.

Gorilla tua yang bongkok

meraung-raung.

Sembari jari-jari galak di gitarnya

mencakar dan mencakar

menggaruki rasa gatal di sukmanya.

 

Georgia.

Tak ada lagi tamu baru.

Udara di luar jekut.

Anginnya tambah santer.

Dan di hotel

menunggu ranjang yang dingin.

Serentak dilihat muka majikan café jadi kecut

lantaran malam yang bangkrut

Negro itu menengadah.

Lehernya tegang.

Matanya kering dan merah

menatap ke surga.

Dan surga.

melemparkan sebuah jala

yang menyergap tubuhnya

 

Bagai ikan hitam

ia menggelepar dalam jala

Jumpalitan

dan sia-sia.

Marah

terhina

dan sia-sia.

 

Angin bertalu-talu di alun-alun Boston.

Bersuit-suit di menara gereja-gereja.

Sehingga malam koyak moyak.

Si Negro menghentakkan kakinya

Menyanyikan kutuk dan serapah.

Giginya putih berkilatan

meringis dalam dendam.

Bagai batu lumutan

wajahnya kotor, basah dan tua

 

Maka waktu bagaikan air bah

melanda sukmanya yang lelah.

Sedang di tengah-tengah itu semua

ia rasakan sentakan yang hebat

pada kakinya.

Kaget

hampir-hampir tak percaya

ia merasa

encok yang pertama

menyerang lututnya.

 

Menuruti adat pertunjukan

dengan kalem ia menahan kaget.

Pelan-pelan duduk di kursi

Seperti guci retak

di toko tukang loak.

Baru setelah menarik napas panjang

ia kembali bernyanyi.

 

Georgia.

Georgia yang jauh disebut dalam nyanyinya.

Istrinya masih di sana

setia tapi merana

Anak-anak Negro bermain di selokan

tak krasan sekolah.

Yang tua-tua jadi pemabuk dan pembual

banyak hutangnya.

Dan di hari Minggu

mereka pergi ke gereja yang khusus untuk Negro

Di sana bernyanyi

terpesona pada harapan akherat

kerna di dunia mereka tak berdaya.

 

Georgia.

Lumpur yang lekat di sepatu.

Gubug-gubug yang kurang jendela.

Duka dan dunia

sama-sama telah tua

Sorga dan neraka

keduanya usang pula.

Dan Georgia?

Ya, Tuhan

Setelah begitu jauh melarikan diri,

masih juga Georgia menguntitnya.

 

 


=W. S. RENDRA=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar