merinduimu ketika malam jadi sempurna
menjejak jalan menuju bukitbukit dan pohonan
lereng dan kemilau carnalim
adalah sebuah pertemuan di juring harapan
undakan punden
akarakar kenangan saling membelit
mengisahkan jambat hangkirat
si pahit lidah
juga kisah tentang anak dalam
kemilau sampai di kemiling
ekskavasi tiada akhir
ketika itu tahun saka
bekal kubur
dari zaman ke zaman
rambutmu manik,
tergerai di semilir angin
melepaskan kuccit
meremangkan setiap pandangan
tawamu begitu lirih
meraba kupukupu di leher
jenjang
lelah berlatih tari melinting
bergurau
saling berbalas sagata bukahaya
gadis dan bujang
malammalam jadi kenangan
sementara kakak
hening dalam sesat
tatapnya nanar
sunyi dalam ritual mantok
diingatnya muanyak
jauh di krui
menjelmakan sengkarut peristiwa
mamak berdiang di depan kancah
menunggu kopi menghitam
kagrih
panas bara
sedang musim berganti selalu
dan
selalu berubah
moyangku dari zaman tumi
saling berebut masuk hutan menjumpai muli putri
di pangkalan sumur jernih
menyimak rayuh
suara kulintang sebagai tolak bala tumbul dewani
titisan dewa
agar diberkati
disyarati
manik kekasihku,
diorama kampung halaman menyadarkan aku
seorang pejalan lelah
merapal sarambai juga cerawan
dimensi waktu telah meluruhkan
keras hati
kisah rakata diletup dasyatnya
goncang bumi ganggu tidur
ingatlah rumahmu di desa wana
bubungan seolah trapesium
sebuah tradisi di rumah panggung
senja ini akan kuceritakan tentang laut
gadinggading mengambang karena keangkuhan manusia
dengarlah kahindang ini, sayang
raga yang masai karena jumpa
perahuperahu tinggalkan pesisir pantai
pendatang huni sang bumi ruwa jurai
manik, kubawa serta kemilau tubuhmu
di biru lautan
harihari yang kutinggalkan
hanya sekedar siasat
matahari itu pasti kembali
menyinari punggung sebuah bukit
SudutBumi, 8 Agustus 2006
=DIAN HARTATI=
Catatan:
carnalim: jenis manic-manik kaca
kuccit: kucir rambut
sagata bukahaya: bentuk pantun percintaan
sesat: rumah adat
mantok: menenen kain tapis
muanyak: seni vocal
kancah: kuali besah
kagrih: aduk
muli putri: bidadari
rayuh: hajatan
sarambai: jenis prosa panjang
cerawan: keluhan jiwa
kahindang: puisi lisan berisi kisah sedih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar