Senin, 17 Agustus 2015

GELIAT MUSIM ANGIN TEDUH karya : Dian Hartati

menuju utara menuju timur

tanahtanah dijelajahi

memburu jati diri karena jiwa terkekang

 

berbondong menatap nyiur di garis pantai

mendirikan bangsal beranakpinak

menghitung hari dalam satu musim

 

begitulah daik lingga mengawali kisah

bersama cuaca dan gerak gemawan membangun ritual

dabo singkep ramaikan bandar desa malang rapat

 

geliatkan musim angin teduh

bersama anak, istri, juga handai tolan

 

1

“mak long, segera siapkan berteh. pilih padipadi unggul

untuk digoreng. beras kuning dan beras basuh yang utama,

juga bakek sebanyak tiga kapur. aku ingat mereka suka

merokok, siapkan tiga batang saja. tembakau dan pembara

jangan sampai tertinggal. jauh-jauh hari telah kusiapkan

kemenyan.”

 

sebab april mengundang musim angin teduh

gelombang laut dapat berdamai

kupilih pagi tenang mendatangi hujan

siap meramu bersama datuk, sang pawing

 

duapuluh hari mendatang kayukayu pilihan direndam

kini waktu bertandang ke hutan

menjumpai para makhluk gaib

 

wahai hantuhantu

para jembalang

mambang

jin

 

dengarlah kami datang membawa sesaji

mohon izin

agar kesampuk menjauh dari kami

 

kapak dan parang telah terasah

kayu pilihan tercatat dalam ingatan

jauhi jika terlilit ular

jauhi jika terdapat ular

tinggalkan saja jika berbuah

apalagi terdapat cacat

pilih yang lain jika milik kerabat

dengarlah mantra kayu kami ucapkan

“salam pada nabi ilyas

salam pada nabi ilyas

salam pada nabi ilyas

kami minta kayu ini

untuk rezeki kami di laut”

setelah hajat terucap

alam seolah memberi izin

daunan itu luruh mengangguk setuju

ayuan kapak jadi pertanda

jalan baru menuju penghidupan

 

2

“mak long, percayakah kau puan? kita akan mengacak

kelong. mengundang ikan bilis agar terperangkap. nantikan

hari panen itu. tanggultanggul akan memenuhi

dadamu dengan manikam. siapkan sesaji yang sama, oh

ya tambahkan juga sebutir telur yang masak, serabai, lepat,

dan ketupat, agar lengkap semua itu.”

 

tiga hari lalu aku telah bertandang ke laut

menandai dengan tongkat pancang yang kukuh

kau tahu laut begitu bersahabat

bertakzim pada semesta

 

kini akan kularungkan semah serta kayu pilihan

karena semua siap dicacak

siap dibentangkan

 

datuk menggiring salam

memetakan setiap lankah agar tak sia

menjelmakan ratusan bahkan ribuan keinginan

“salam pada nabi khaidir

salam pada nabi sulaiman

salam pada nabi allahitut

sang penguasa air

sang penguasa ikan

sang penguasa bumi

kami minta tempat ini

untuk rezeki kami di laut”

 

tunggu saja isyarat raja laut

jika mimpi buruk tak datang

segera kami kembali

jika mimpi buruk datang

apa yang bisa kami kehendaki

semua milikmu semata

 

ternyata laut begitu pemurah

berkah kami dapatkan

segera tanggung jawab diselesaikan

“salam bagi raja laut

kami datang untuk sebuah kehendak

menyacak kelong bagi pemilik

jangan ganggu kami umat muhammad

mencari rezeki di laut 

kami tak berniat jahat

hanya bermaksud baik            ”

 

mantra selesai diucap

segala sesaji ditabur

kecuali rokok, tembakau

juga penganan

semua ditenggelamkan

dalam hening yang kaku

 

pekan kedua di bulan mei

arus laut memantau setiap gerak

tenang

tangantangan itu bersikeras

menyacak

membentuk sebuah ruang di atas permukaan

nanar

sebab sesaji diterima alam

 

3

“mak long, buang semua lelah di ragamu istriku. segera

rebus beriburibu butir kacang hijau, tanak sampai ia manis

untuk dicecap. siapkan juga bedak beras yang kau tumbuk

kemarin. segeralah, jangan biarkan hari matang tanpa siasat.

ajak azizah buah hatiku, ajarkan padanya bagaimana

menyiapkan alat penepuk. mengumpulkan daun ganda

rusa, setawar, dan sedinginan. tak baik remaja dibiarkan

melamun sendiri.”

 

senja itu doadoa ditetaskan

semua menunduk syukur

kalimatkalimat mengawang di lautan

terbawa arus, angin, juga bisikanbisikan para nabi

 

setelah asar yang syahdu

serombongan menuju kelong

seorang memimpin, bukan datuk tentunya

 

ucap syukur menghunjam ke dasar laut

ucap syukur terbang ke semesta

inilah kesempatan itu

ketika berkah diterima

semangkuk bubur terasa gurih

kelat di lidah

 

kini saatnya pancang tua diberkati

tanggultanggul diberkati

pawang menaburkan tepung tawar

al fatihah terlantun

tiga surat lain menyusul

al ikhlas, al falaq, an naas

 

gemuruh angin datang

lidahlidah ombak menajam

“salam bagimu roh bani,

penguasa kayukayu

kami hormat padamu

kami memohon pada engkau

kami akan memasang lampu kelong

untuk rezeki kami di laut”

 

semua hening

menanti kelam bersama dengung shalawat

luruh ditingkah haru

siap memanen di hari menjelang

 

menuju utara menuju timur

tanahtanah dijelajahi

berbondong menatap nyiur di garis pantai

mendirikan bangsal beranakpinak

begitulah daik lingga mengawali kisah

bersama cuaca dan gerak gemawan membangun ritual

dabo singkep ramaikan bandar desa malang rapat

geliatkan musim angin teduh



 

SudutBumi, 19 September 2006

=DIAN HARTATI=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar