menuju utara menuju timur
tanahtanah dijelajahi
memburu jati diri karena jiwa terkekang
berbondong menatap nyiur di garis pantai
mendirikan bangsal beranakpinak
menghitung hari dalam satu musim
begitulah daik lingga mengawali kisah
bersama cuaca dan gerak gemawan membangun ritual
dabo singkep ramaikan bandar desa malang rapat
geliatkan musim angin teduh
bersama anak, istri, juga handai tolan
1
“mak long, segera siapkan berteh. pilih padipadi unggul
untuk digoreng. beras kuning dan beras basuh yang utama,
juga bakek sebanyak tiga kapur. aku ingat mereka suka
merokok, siapkan tiga batang saja. tembakau dan pembara
jangan sampai tertinggal. jauh-jauh hari telah kusiapkan
kemenyan.”
sebab april mengundang musim angin teduh
gelombang laut dapat berdamai
kupilih pagi tenang mendatangi hujan
siap meramu bersama datuk, sang pawing
duapuluh hari mendatang kayukayu pilihan direndam
kini waktu bertandang ke hutan
menjumpai para makhluk gaib
wahai hantuhantu
para jembalang
mambang
jin
dengarlah kami datang membawa sesaji
mohon izin
agar kesampuk menjauh dari kami
kapak dan parang telah terasah
kayu pilihan tercatat dalam ingatan
jauhi jika terlilit ular
jauhi jika terdapat ular
tinggalkan saja jika berbuah
apalagi terdapat cacat
pilih yang lain jika milik kerabat
dengarlah mantra kayu kami ucapkan
“salam pada nabi ilyas
salam pada nabi ilyas
salam pada nabi ilyas
kami minta kayu ini
untuk rezeki kami di laut”
setelah hajat terucap
alam seolah memberi izin
daunan itu luruh mengangguk setuju
ayuan kapak jadi pertanda
jalan baru menuju penghidupan
2
“mak long, percayakah kau puan? kita akan mengacak
kelong. mengundang ikan bilis agar terperangkap. nantikan
hari panen itu. tanggultanggul akan memenuhi
dadamu dengan manikam. siapkan sesaji yang sama, oh
ya tambahkan juga sebutir telur yang masak, serabai, lepat,
dan ketupat, agar lengkap semua itu.”
tiga hari lalu aku telah bertandang ke laut
menandai dengan tongkat pancang yang kukuh
kau tahu laut begitu bersahabat
bertakzim pada semesta
kini akan kularungkan semah serta kayu pilihan
karena semua siap dicacak
siap dibentangkan
datuk menggiring salam
memetakan setiap lankah agar tak sia
menjelmakan ratusan bahkan ribuan keinginan
“salam pada nabi khaidir
salam pada nabi sulaiman
salam pada nabi allahitut
sang penguasa air
sang penguasa ikan
sang penguasa bumi
kami minta tempat ini
untuk rezeki kami di laut”
tunggu saja isyarat raja laut
jika mimpi buruk tak datang
segera kami kembali
jika mimpi buruk datang
apa yang bisa kami kehendaki
semua milikmu semata
ternyata laut begitu pemurah
berkah kami dapatkan
segera tanggung jawab diselesaikan
“salam bagi raja laut
kami datang untuk sebuah kehendak
menyacak kelong bagi pemilik
jangan ganggu kami umat muhammad
mencari rezeki di laut
kami tak berniat jahat
hanya bermaksud baik ”
mantra selesai diucap
segala sesaji ditabur
kecuali rokok, tembakau
juga penganan
semua ditenggelamkan
dalam hening yang kaku
pekan kedua di bulan mei
arus laut memantau setiap gerak
tenang
tangantangan itu bersikeras
menyacak
membentuk sebuah ruang di atas permukaan
nanar
sebab sesaji diterima alam
3
“mak long, buang semua lelah di ragamu istriku. segera
rebus beriburibu butir kacang hijau, tanak sampai ia manis
untuk dicecap. siapkan juga bedak beras yang kau tumbuk
kemarin. segeralah, jangan biarkan hari matang tanpa siasat.
ajak azizah buah hatiku, ajarkan padanya bagaimana
menyiapkan alat penepuk. mengumpulkan daun ganda
rusa, setawar, dan sedinginan. tak baik remaja dibiarkan
melamun sendiri.”
senja itu doadoa ditetaskan
semua menunduk syukur
kalimatkalimat mengawang di lautan
terbawa arus, angin, juga bisikanbisikan para nabi
setelah asar yang syahdu
serombongan menuju kelong
seorang memimpin, bukan datuk tentunya
ucap syukur menghunjam ke dasar laut
ucap syukur terbang ke semesta
inilah kesempatan itu
ketika berkah diterima
semangkuk bubur terasa gurih
kelat di lidah
kini saatnya pancang tua diberkati
tanggultanggul diberkati
pawang menaburkan tepung tawar
al fatihah terlantun
tiga surat lain menyusul
al ikhlas, al falaq, an naas
gemuruh angin datang
lidahlidah ombak menajam
“salam bagimu roh bani,
penguasa kayukayu
kami hormat padamu
kami memohon pada engkau
kami akan memasang lampu kelong
untuk rezeki kami di laut”
semua hening
menanti kelam bersama dengung shalawat
luruh ditingkah haru
siap memanen di hari menjelang
menuju utara menuju timur
tanahtanah dijelajahi
berbondong menatap nyiur di garis pantai
mendirikan bangsal beranakpinak
begitulah daik lingga mengawali kisah
bersama cuaca dan gerak gemawan membangun ritual
dabo singkep ramaikan bandar desa malang rapat
geliatkan musim angin teduh
SudutBumi, 19 September 2006
=DIAN HARTATI=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar