Senin, 17 Agustus 2015

TONG SAMPAH karya : Dina Octaviani

tampaknya kamu harus benar-benar berjalan-jalan ke luar

sementara garis-garis basah yang lampau dan kuno itu

menghabisi pakaian setengah kering

di halaman tetangga

 

apa yang kamu punya?

mimpi indah –

setelah bertahun-tahun kamu percaya

ia buruk bagi puisi?

 

bawalah keluar, tidak apa-apa

masukkan salah satu dari wajah-wajah itu

ke dalam saku jaket tebalmu

satu saja: satu demi satu

tekan kuat-kuat dengan genggaman jari-jarimu

 

melompatlah dari jendela

jika ada seseorang yang sedang tertidur

sambil memegang kunci rumah

 

lalu kamu sudah siap dikepung dan mengepung

angin luar bergunjing, kamu memicing

burung-burung berebut kabar, kamu menapak tak sabar

 

ada ayam berkokok, ayo berbelok

mana tahu ia membangunkan lebih banyak musuh

sebelum kamu sempat menemukan

tong sampah yang tepat

kamu tak perlu merisaukan lampu luar

yang belum dimatikan

sebab tak ada yang boleh tahu

kamu mampu bangun sepagi ini

 

kamu tak boleh membuat mereka

yang berpendapat lain tentangmu kecewa

nanti musuh tanpa konflik yang jelas bertambah

 

sementara bulan yang kamu sebut bulan

tak pernah berubah jumlah

tak bisa diingat sebagai milik pribadi

 

sementara kamu tak pernah sanggup

menyimpan fasilitas umum sebagai kenangan

meskipun pikirmu, semua yang kamu kira-miliki

adalah kepunyaan orang

 

hanya ada satu tong sampah

agak di depan

tak banyak orang modern di lingkungan ini

 

orang-orang tradisional selalu menyimpan sendiri

sampah-sampahnya dan membakarnya

di lubang depan rumah

: biar tetangga tahu mereka juga bisa marah

 

buanglah wajah dalam kantongmu

yang mulai berat itu ke dalam tong

: biar mereka tahu orang modern yang kesepian pun

tak butuh kenangan

atau mumpung tak ada yang lihat

: orang modern tak bisa marah

kepada sampahnya sendiri

 

lupakan rencana surat-menyurat

dengan seorang teman rahasia

: seorang teman modern tak akan mau

mengorek tong sampah

untuk membaca keluhan tentang sms

yang tak dibalas

 

belikan wine, barangkali

ia akan mendengarkan pendapatmu sambil pura-pura

            tak mabuk

: mengapa penyanyi favoritmu tak pernah menegurmu

 

atau mungkin ia akan menidurimu

dan bertanya sambil menyedekahkan marijuana

: mengapa kamu ingin membunuh orang lagi

padahal fungsi orang jahat adalah melatihmu

mencintai dengan tulus

 

jangan, jangan kembali ke kampung halaman

kamu sendiri yang bilang

: pejalan dan orang yang berlari tak ingin pulang

– apalagi peragu sepertimu

 

andai pun lidya belum meninggal

ia seharusnya sudah mati

andai pun ibumu tak hilang

ia semestinya sungguh tak ada

tak punya kawanan itu baik

bagi domba yang sedang disembelih

seharusnya tak ada bedanya

 

apakah kamu memiliki teman?

apakah kamu memilikiku?

 

kamu telah kehilangan semuanya

kecuali mimpi-mimpi buruk dan pikiran tak sehat

beranjaklah, lagu-lagu maha sedih dan penyayang itu

tidak ditulis untukmu

 

ya, begitu, melangkah

kamu boleh membut skenario sendiri

mengenai affair singkat dengan pagi hari

bahkan yang benar-benar lain

; beramai-ramai, kencan dobel, homomemorial,

            sunyi-masokhis

 

kamu boleh menuliskannya kelak

mencarikannya penerbit dan meletakkannya di toko buku

lalu berdebar-debar oleh tatapan sinis seseorang

yang mendekap bukumu dengna cinta yang nyaris meledak

– dan tak ada orang yang menolong

 

Oh, mengapa ke sana?

di dapur hanya ada sisa makanan

kenangan yang basi tentang garis-garis lampau yang kuno

dan piring-piring kotor yang masih dapat kamu simpan

hingga beberapa jam lagi

 

tidak, dengarlah

lihat! apa sih yang dia punya?

seorang musuh telah bangun dan keluar lebih dulu

tanpa kunci –

pintu rumahmu tak pernah terkunci?

 

(berbisik)

oh, tak tahukah dua puluh tahun ini kujodohkan kamu

dengan harapan…




=DINA OCTAVIANI=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar