Minggu, 02 Agustus 2015

TANGIS karya : W. S. Rendra

Ke mana larinya anak tercinta

yang diburu segenap penduduk kota? 

Paman Doblang! Paman Doblang!

 

la lari membawa dosa

tangannya dilumuri cemar noda 

tangisnya menyusupi belukar di rimba.

 

Sejak semalam orang kota menembaki 

dengan dendam tuntutan mati 

dan ia lari membawa diri. 

Seluruh subuh, seluruh pagi.

 

Paman Doblang! Paman Doblang! 

Ke mana larinya anak tercinta 

di padang lalang mana

di bukit kapur mana

mengapa tak lari di riba bunda?

 

Paman Doblang! Paman Doblang! 

Pesankan padanya dengan angin kemarau 

ibunya yang tua menunggu di dangau.

 

Kalau lebar nganga lukanya 

mulut bunda 'kan mengucupnya.

 

Kalau kotor warna jiwanya 

ibu cuci di lubuk hati.

 

Cuma ibu yang bisa mengerti 

ia membunuh tak dengan hati.

 

Kalau memang hauskan darah manusia 

suruhlah minum darah ibunya.

 

Paman Doblang! Paman Doblang! 

Katakan, ibunya selalu berdoa. 

Kalau ia 'kan mati jauh di rimba 

suruh ingat marhum bapanya 

yang di sorga, di imannya.

 

Dan di dangau ini ibunya menanti 

dengan rambut putih dan debar hati.

 

Paman Doblang! Paman Doblang! 

Kalau di rimba rembulan pudar duka 

katakan, itulah wajah ibunya.

 




=W. S. RENDRA=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar