Minggu, 02 Agustus 2015

BALLADA LELAKI-LELAKI TANAH KAPUR karya : W. S. Rendra

 

Para lelaki telah keluar di jalanan 

dengan kilatan-kilatan ujung baja 

dan kuda-kuda para penyamun 

telah tampak di perbukitan kuning 

bahasa kini adalah darah.

 

Di belakang pintu berpalang

tangis kanak-kanak, doa perempuan.

 

Tanpa menang tiada kata pulang 

pelari akan terbujur di halaman 

ditolaki bini dan pintu berkunci.

 

Mendatang derap kuda

dan angin bernyanyi :

-'Kan kusadap darah lelaki 

terbuka guci-guci dada baja

bagai pedagang anggur dermawan 

lelaki-lelaki rebah di jalanan

lambung terbuka dengan geram serigala!

 

O, bulu dada yang riap! 

Kebun anggur yang sedap!

 

Setengah keliling memagar 

mendekat derap kuda

lalu terdengar teriak peperangan 

dan lelaki hidup dari belati 

berlelehan air amis

mulut berbusa dan debu pada luka.

 

Pada kokok ayam ketiga

dan jingga langit pertama 

para lelaki melangkah ke desa 

menegak dan berbunga luka-luka 

percik-percik merah, dada-dada terbuka.

 

Berlumur keringat diketuk pintu.

- Siapa itu?

- Lelakimu pulang, perempuan budiman!

 

Perempuan-perempuan menghambur dari pintu 

menjilati luka-luka mereka 

dara-dara menembang dan berjengukan 

dari jendela.

 

Lurah Kudo Seto

bagai trembesi bergetah 

dengan tenang menapak 

seluruh tubuhnya merah.

 

Sampai di teratak

istri rebah bergantung pada kaki

dan pada anak lelakinya ia berkata: 

- Anak lanang yang tunggal!

kubawakan belati kepala penyamun bagimu 

ini, tersimpan di daging dada kanan.

 




=W. S. RENDRA=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar