Jumat, 07 Agustus 2015

SYAIR SURAT RINDU SAMSUL BAHRI KEPADA SITI NURBAYA karya : Marah Rusli

(Sepucuk surat, Jakarta, 10 Agustus 1896)

 

Awal bermula berjejak kalam

Pukul sebelas suatu malam

Bulan bercaya mengedar alam

Bintang bersinar laksana nilam

 

Langit jernih cuaca terang

Kota bersinar terang benderang

Angin bertiup serang-menyerang

Ombak memecah di atas karang

 

Awan berarak berganti-ganti

Cepat melayang tiada berhenti

Menuju selatan tempat yang pasti

Sampai ke gunung lalu berhenti

 

Udara tenang hari pun terang

Sunyi senyap bukan sebarang

Murai berkicau di kayu arang

Merayu hati dagang seorang

 

Guntur menderu mendayu-dayu

Pungguk merindu di atas kayu

Hati yang riang menjadi sayu

Pikiran melayang ke tanah Melayu

 

Angin bertiup bertalu-talu

Kalbu yang rawan bertambah pilu

Hati dan jantung berasa ngilu

Bagai diiris dengan sembilu

 

Tatkala angin berembus tenang

Adik yang jauh terkenang-kenang

Air mata jatuh berlinang

Lautan Hindia hendak direnang

 

Jika dipikir diingat-ingat

Arwah melayang terbang semangat

Tubuh gemetar terlalu sangat

Kepala yang sejuk berasa angat

 

Betapa tidak jadi begini

Ayam berkokok di sana-sini

Disangka jiwa permata seni

Datang menjelang kakanda ini

 

Disangka adik datang melayang

Mengobat kakanda mabuk kepayang

Hati yang sedih berasa riang

Kalbu yang tetap rasa bergoyang

 

Lipur segala susah di hati

Melihat adikku emas sekati

Datang menjelang abang menanti

Dagang merindu bagaikan mati

 

Silakan gusti emas tempawan

Sila mengobat dagang yang rawan

Penyakit hebat tidak berlawan

Sebagai kayu penuh cendawan

 

Silalah adik, silalah gusti

Sila mengobat luka di hati

Jika lambat adik obati

Tentulah abang fana dan mati

 

Tatkala sadar hilang ketawa

Dagang seorang di tanah Jawa

Rasakan hancur badan dan nyawa

Nasib rupanya berbuat kecewa

 

Di sana teringat badan seorang

Jauh di rantau di tanah seberang

Sedih hati bukan sebarang

Sebagai manik putus pengarang

 

Tunduk menangis tercita-cita

Jatuh mencucur air mata

Lemah segala sendi anggota

Rindukan adik emas juita

 

Teringat adik emas sekati

Kanda mengeluh tidak berhenti

Rindu menyesak ke hulu hati

Rasa mencabut nyawa yang sakti

 

Terkenang kepada masa dahulu

Tiga bulan yang telah lalu

Bergurau senda dapat selalu

Dengan adikku yang banyak malu

 

Sekarang kakanda seorang diri

Jauh kampung halaman negeri

Duduk bercinta sehari-hari

Kerja lain tidak dipikiri

 

Tetapi apa hendak dikata

Sudah takdir Tuhan semesta

Sebilang waktu duduk bercinta

Kepada adikku emas juita

 

Setelah jauh sudahlah malam

Kakanda tertidur di atas tilam

Bermimpi adik permata nilam

Datang melipur gundah di dalam

 

Datanglah itu seorang diri

Tidur berbaring di sebelah kiri

Kakanda memeluk intan baiduri

Dicium pipi kanan dan kiri

 

Tiada berapa lama antara

Dilihat badan sebatang kara

Abang terbangun dengan segera

Hati yang rindu bertambah lara

 

Guling kiranya berbuat olah

Lalu mengucap astagfirullah

Begitulah takdir kehendak Allah

Badan yang sakit bertambah lelah

 

Memang apa hendak dibilang

Sudahlah nasib untung yang malang

Petang dan pagi berhati walang

Menanggung rindu beremuk tulang

 

Walaupun sudah nasib begitu

Tiada kanda berhati mutu

Gerak takdir Tuhan yang satu

Duduk bercinta sebilang waktu

 

Jauh malam hampirkan siang

Mataku tidak hendak melayang

Di ruang mata adik terbayang

Hati dan jantung rasa bergoyang

 

Ayam berkokok bersahut-sahutan

Di sebelah barat, timur, selatan

Hatiku rindu bukan buatan

Kepada adikku permata intan

 

Di situ terkenang ibu dan bapa

Adik dan kakak segala rupa

Handai dan tolan kaya dan papa

Timbul di kalbu tiada lupa

 

Begitulah nasib di rantau orang

Susah ditanggung badan seorang

Sakit bertenggang bukan sebarang

Sebagai terpijak duri di karang

 

Setelah siang sudahlah hari

Berjalan kakanda kian kemari

Tak tahu apa akan dicari

Bertemu tidak kehendak diri

 

Diambil kertas ditulis surat

Ganti tubuh badan yang larat

Kesan nasib untung melarat

Kepada adikku di Sumatra Barat

 

Dawat dan kalam dipilih jari

Dikarang surat di dinihari

Ganti kakanda datang sendiri

Ke pangkuan adik wajah berseri

 

Wahai adikku indra bangsawan

Salam kakanda dagang yang rawan

Sepucuk surat jadi haluan

Ke atas ribaan emas tempawan

 

Mendapatkan adik paduka suri

Cantik manis intai baiduri

Di padang konon namanya negeri

Duduk berdiam di rumah sendiri

 

Jika kakanda peri dan mambang

Tentulah segera melayang terbang

Menyeberang lautan menyongsong gelombang

Mendapatkan adik kekasih abang

 

Menyerahkan diri kepada adinda

Tulus dan ikhlas di dalam dada

Harapan kakanda jangan tiada

Mati di pangkuan bangsawan muda

 

Adikku Nurbaya permata delima

Dengan berahi sudahlah lama

Hasrat di hati hendak bersama

Dengan adikku mahkota lima

 

Hendak bersama rasanya cita

Dengan adikku emas juita

Jika ditolong sang dewata

Di dadalah jadi tajuk mahkota

 

Tajuk mahkota jadilah tuan

Putih kuning sangat cumbuan

Menjadikan abang rindu dan rawan

Laksana orang mabuk cendawan

 

Karena menurut cinta di hati

Asyik berahi punya pekerti

Sungguhpun hidup rasakan mati

Baru sekarang kanda mengerti

 

Dendam berahi sudahlah pasti

Tuhan yang tahu rahasia hati

Kakanda bercinta rasakan mati

Tidak mengindahkan raksasa sakti

 

Siang dan malam duduk bercinta

Kepada adikku emas juita

Tiada hilang di hati beta

Adik selalu di dalam cipta

 

Jiwaku manis Nurbaya Sitti

Putih kuning emas sekati

Tempat melipur gundah di hati

Ingin berdua sampaikan mati

 

Tidaklah belas dewa kencana

Memandang kanda dagang yang hina

Makan tak kenyang tidur tak lena

Bercintakan adik muda teruna

 

Rindukan adik paras yang gombang

Siang dan malam berhati bimbang

Cinta di hati selalu mengembang

Laksana perahu diayun gelombang

 

Setiap hari berdukacita

Terkenang adinda emas juita

Sakit tak dapat lagi dikata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar