Derit jendela malam langitku
Menggemai resah pada letih dedaunan
Sebaris untaian syairku terkatung kaku
Menatap dingin wajah sepi yang kian mati
Hanya gerak jemari yang tak henti menggeliat
Menggurat aksara hampa dibalik raut gelisah
Aku semakin rebah dalam kesendirian
Mengeja sebaris nama yang masih menjadi kenangan
Yang tak henti tersirat samar dibalik remang
Kucoba memahami tentang sebaris makna kesepian
Diantara gerak angin yang membelai rintik rintik embun
Disela sela dengusan perdu liar yang menari diam
Dan disekujur bayanganmu yang tak henti berlari
Angin menggelitik, malam kian menjauh
Waktu kembali pergi membawa senandung burung sunyi
Sedang aku masih terkatung sendiri bersama kenangan
Dan segumpal sepi yang terlihat seperti mati
=MERPATI=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar