Jumat, 07 Agustus 2015

PARA JENDERAL MARAH MARAH karya : Wiji Thukul

Pagi itu kemarahannya disiarkan

oleh televisi. Tapi aku tidur. Istriku

yang menonton. Istriku kaget. Sebab

seorang letnan jendral menyeret-nyeret

namaku. Dengan tergopoh-gopoh

selimutku ditarik-tariknya, Dengan

mata masih lengket aku bertanya:

mengapa? Hanya beberapa patah kata

ke luar dari mulutnya: ”Namamu di

televisi .....” Kalimat itu terus dia ulang

seperti otomatis.

 

Aku tidur lagi dan ketika bangun

wajah jendral itu sudah lenyap dari

televisi. Karena acara sudah diganti.

 

Aku lalu mandi. Aku hanya ganti baju.

Celananya tidak. Aku memang lebih

sering ganti baju ketimbang celana.

 

Setelah menjemur handuk aku ke

dapur. Seperti biasa mertuaku yang

setahun lalu ditinggal mati suaminya

itu, telah meletakkan gelas berisi teh

manis. Seperti biasanya ia meletakkan

di sudut meja kayu panjang itu, dalam

posisi yang gampang diambil.Istriku

sudah mandi pula. Ketika berpapasan

denganku kembali kalimat itu

meluncur.

 

”Namamu di televisi....” ternyata istriku

jauh lebih cepat mengendus bagaimana

kekejaman kemanusiaan itu daripada

aku.

 




=WIJI THUKUL=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar