Senin, 03 Agustus 2015

PADA SUATU MALAM karya : Sapardi Djoko Damono

ia pun berjalan ke barat, selamat malam, solo,

katanya sambil menunduk.

seperti didengarnya sendiri suara sepatunya

satu persatu.

barangkali lampu-lampu ini masih menyala buatku, pikirnya.

kemudian gambar-gambar yang kabur dalam cahaya,

hampir-hampir tak ia kenal lagi dirinya, menengadah

kemudian sambil menarik nafas panjang

ia sendiri saja, sahut-menyahut dengan malam,

sedang dibayangkannya sebuah kapal di tengah lautan

yang memberontak terhadap kesunyian.

 

sunyi adalah minuman keras, beberapa orang membawa

perempuan

beberapa orang bergerombol, dan satu-dua orang

menyindir diri sendiri; kadang memang tak ada lelucon lain.

barangkali sejuta mata itu memandang ke arahku, pikirnya.

ia pun berjalan ke barat, merapat ke masa lampau.

 

selamat malam, gereja, hei kaukah anak kecil

yang dahulu duduk menangis di depan pintuku itu?

ia ingat kawan-kawannya pada suatu hari natal

dalam gereja itu, dengan pakaian serba baru,

bernyanyi; dan ia di luar pintu. ia pernah ingin sekali

bertemu yesus, tapi ayahnya bilang

yesus itu anak jadah.

ia tak pernah tahu apakah ia pernah sungguh-sungguh

mencintai ayahnya.

 

barangkali malam ini yesus mencariku, pikirnya.

tapi ia belum pernah berjanji kepada siapa pun

untuk menemui atau ditemui;

ia benci kepada setiap kepercayaan yang dipermainkan.

ia berjalan sendiri di antara orang ramai.

seperti didengarnya seorang anak berdoa; ia tak pernah

diajar berdoa.

ia pun suatu saat ingin meloloskan dirinya ke dalam doa,

tapi tak pernah mengetahui

awal dan akhir sebuah doa; ia tak pernah tahu kenapa

barangkali seluruh hidupku adalah sebuah doa yang panjang.

 

katanya sendiri; ia merasa seperti tentram

dengan jawabannya sendiri:

hidup adalah doa yang panjang.

pagi tadi ia bertemu seseorang, ia sudah lupa namanya,

lupa wajahnya: berdoa sambil berjalan…

ia ingin berdoa malam ini, tapi tak bisa mengakhiri,

tak bisa menemukan kata penghabisan.

 

ia selalu merasa sakit dan malu setiap kali berpikir

tentang dosa; ia selalu akan pingsan

kalau berpikir tentang mati dan hidup abadi.

barangkali tuhan seperti kepala sekolah, pikirnya

ketika dulu ia masih di sekolah rendah. barangkali tuhan

akan mengeluarkan dan menghukum murid yang nakal,

membiarkannya bergelandangan dimakan iblis.

barangkali tuhan sedang mengawasi aku dengan curiga,

pikirnya malam ini, mengawasi seorang yang selalu gagal

berdoa.

 

apakah ia juga pernah berdosa, tanyanya ketika berpapasan

dengan seorang perempuan. perempuan itu setangkai bunga;

apakah ia juga pernah bertemu yesus, atau barangkali

pernah juga dikeluarkan dari sekolahnya dulu.

selamat malam, langit, apa kabar selama ini?

barangkali bintang-bintang masih berkedip buatku, pikirnya.

ia pernah membenci langit dahulu,

ketika musim kapal terbang seperti burung

menukik: dan kemudian ledakan-ledakan

(saat itu pulalah terdengar olehnya ibunya berdoa

dan terbawa pula namanya sendiri)

kadang ia ingin ke langit, kadang ia ingin mengembara saja

ke tanah-tanah yang jauh; pada suatu saat yang dingin

ia ingin lekas kawin, membangun tempat tinggal.

 

ia pernah merasa seperti si pandir menghadapi

angka-angka … ia pun tak berani memandang dirinya sendiri

ketika pada akhirnya tak ditemukannya kuncinya.

pada suatu saat seorang gadis adalah bunga,

tetapi di lain saat menjelma sejumlah angka

yang sulit. ah, ia tak berani berkhayal tentang biara.

 

ia takut membayangkan dirinya sendiri, ia pun ingin lolos

dari lampu-lampu dan suara-suara malam hari,

dan melepaskan genggamannya dari kenyataan;

tetapi disaksikannya: berjuta orang sedang berdoa,

para pengungsi yang bergerak ke kerajaan tuhan,

orang-orang sakit, orang-orang penjara,

dan barisan panjang orang gila.

ia terkejut dan berhenti,

lonceng kota berguncang seperti sedia kala

rekaman senandung duka nestapa.

 

seorang perempuan tertawa ngeri di depannya, menawarkan

sesuatu.

ia menolaknya.

ia tak tahu kenapa mesti menolaknya.

barangkali karena wajah perempuan itu mengingatkannya

kepada sebuah selokan, penuh dengan cacing;

barangkali karena mulut perempuan itu

menyerupai penyakit lepra; barangkali karena matanya

seperti gula-gula yang dikerumuni beratus semut.

dan ia telah menolaknya, ia bersyukur untuk itu.

kepada siapa gerangan tuhan berpihak, gerutunya.

 

ia menyaksikan orang-orang berjalan, seperti dirinya, sendiri;

atau membawa perempuan, atau bergerombol,

wajah-wajah yang belum ia kenal dan sudah ia kenal,

wajah-wajah yang ia lupakan dan ia ingat sepanjang zaman,

wajah-wajah yang ia cinta dan ia kutuk.

semua sama saja.

barangkali mereka mengangguk padaku, pikirnya;

barangkali mereka melambaikan tangan padaku setelah lama

berpisah

atau setelah terlampau sering bertemu. ia berjalan ke barat.

 

selamat malam. ia mengangguk, entah kepada siapa;

barangkali kepada dirinya sendiri. barangkali hidup adalah

doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras.

ia merasa tuhan sedang memandangnya dengan curiga;

ia pun bergegas.

barangkali hidup adalah doa yang ...

barangkali sunyi adalah …

barangkali tuhan sedang menyaksikannya berjalan ke barat



 

1964

=SAPARDI DJOKO DAMONO=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar