Senin, 10 Agustus 2015

SAJAK SAJAK MASA TUA karya : Rabindranath Tagore

Ketika aku masih muda

Siang hari pukul dua

Kuhadapkan kepalaku ke pintu

Kamarku di atap

Tikarku lebar terhampar

Dan kuhabiskan jam-jam riang.

Jauh di udara burung elang

Memanggil-manggil

Di angin basah

Daun-daun shirish berkilauan

Dengan paruh pecah karena haus, burung gagak

Terbelalak matanya memandang tembok batu.

Burung-burung gereja menggelepar

Di kasau-kasau kamarku.

Menyebrangi gang kudengar suara penjaja makanan:

Di sebuah atap nun jauh seseorang bermain layang-layang.

Jauh di balik pelupuk mata,

Yang Tak Dikenal

Meniup seruling membujuk hatiku

Meninggalkan rumah.

Cinta dan duka bercampur entah kenapa,

Menenun mimpi tanpa awal

Tanpa akhir.

Seakan aku memandang –

Teman seseorang yang tak punya teman.

Aku melangkah ke umur tujuh puluh,

Menuju akhir pantai.

Kusingkap jendela kalbuku

Seakan di masa kanak

Merenung. Waktu-waktuku lewat.

Dalam panas membakar ini

Dahan-dahan Shirish bergetar

Dekat perigi di tepi pohon tamarin.

Anjing tetangga tidur;

Bebas dari gerobak, sapi jantan

Membaringkan dirinya di padang.

Bunga gandharaya berlayuan di atas kerikil,

Mataku menyentuh semua,

Pikiranku berada di tiap benda.

Seakan bocah bebas bertelanjang, pikiranku

Menyertai kenaungan hutan

Dan langit,

Kulit kerang-kerangan tak dikenal

Bergema dalam semua yang kukenal.

***

Dunia kini buas dengan mata gelap kebencian,

Pertikaian kian ganas dan ketakutan tak kunjung henti,

Miring jalannya, kacau oleh timbunan kelobaan.

Segenap makhluk meneriakkan kelahiran baru darimu.

O Kamu kehidupan yang tak terbatas,

Selamatkanlah mereka, bangkitkanlah suara kekal harapanmu.

Biarkan teratai cinta dengan kekayaan madunya tak habis-habis

Mebukakan kelopak-kelopaknya di dahan cahayamu.

O Terang, O Kebebasan,

Dalam kasih saying dan kebaikanmu yang tak terhingga

Spulah semua najis kegelapan dari hati bumi ini.

Kaulah pemberi karunia abadi

Beri kami kekuatan menyangkal

Dan tuntutlah dari kami kebanggaan kami.

Dalam pesona fajar baru kearifan

Biar si buta memperoleh penglihatan terang

Dan biar hidup mendatangi jiwa-jiwa mati.

O Terang, O Kebebasan,

Dalam kasih saying dan kebaikanmu yang tak terhingga

Sapulah semua najis kegelapan dari hati bumi ini.

Hati manusia cemas oleh bara kegelisahan,

Oleh racun kepentingan diri,

Oleh dahaga tak kenal akhir.

Negeri-negeri jauh dan luas menunjukkan kening mereka

Yang memercikkan darah merah kebencian.

Rabalah mereka dengan tangan kananmu,

Jadikan mereka satu dalam semangat,

Bawakan keselamatan dalam hidup mereka,

Bawakan nada keindahan.

O Terang, O Kebebasan

Dalam kasih saying dan kebaikanmu yang tak terhingga

Sapulah semua najis kegelapan dari hati bumi ini.

***

Dari jauh aku memikirkanmu

Kaum zalim, tak tergugat.

Dunia gemetar dalam ketakutan

Mengerikan.

Kobaran api kelobaanmu

Melalap hati yang patah

Di tanganmu trisula

Naik menuju awan bertopan

Menurunkan guntur.

Hatiku gemetaran

Aku berdiri di depanmu.

Dalam pandang matamu yang mencakar

Terhambur ancaman bagaikan gelombang

Angin kencang turun.

Seraya menekankan tanganku ke hati

Aku bertanya,

“masih ada lagikah

Halilintarmu yang terakhir?”

Angin kencang bertiup.

Hanya inikah?

Rasa takutku lenyap.

Jika halilintarmu kau enyahkan,

Kau jadi lebih agung dariku.

Tiupan anginmu membuatmu tegelincir

Jatuh ke duniaku.

Kau jadi kecil

Dan rasa takutku lenyap.

Betapapun besar

Kau tak lebih agung dari kemarin.

Bahwa aku lebih agung

Itulah kata-kataku yang terakhir

Jika aku pergi.

***

Pintu senantiasa terbuka

Hanya mripat si buta yang tertutup

Ia yang tak berani masuk

Tak kenal jalan ruh.

Pintu, serumu bergema dalam terang dan gelap

Musik selamat datangmu begitu khidmat

Palang pintumu dalam matahari fajar

Dan dalam kegelapan bintang-bintang.

Pintu, dari benih sampai pucuk sulur.

Kau berjalan dari kembang ke buah

Walau waktu-waktu tak terurai

Dari mati menuju hidup.

O Pintu, kehidupan dunia

Perjalanan demi perjalanan dari mati ke mati

Kau lambaikan isyarat pada peziarah kebebasan

Suara “Tak Takut” terdengar dari malam keputusasaan.

***

Bertebaran di ruang ini

Benda-benda bisu tuli berbaur

Ada yang mencucuk mata, ada yang sukar dipandang:

Jambang bunga di sudut,

Poci the menyembunyikan wajahnya;

Isi almari, aneka ragam

Berkerumun menuju kekosongan.

Sepasang bingkai jendela pecah tergeletak di sisi tirai

Sekonyong kulihat tirai memerah sendiri

Kulihat tapi tak kusaksikan.

Cahaya pagi mengusut liku-liku desain permadani,

Di situ – taplak meja hijau; lama telah kukhayalkan

Agar menyala warnanya di mataku.

Kini kehijauan terkubur, seakan asap rokok

Dan ia tetap berada di situ sekaligus lenyap.

Pengambilan barang ada di sini, penaruh penuh kertas

Aku lupa membuangnya jauh-jauh.

Almanac condong ke arah meja,

Mengingatkan aku bahwa kini tanggal delapan,

Botol minyak rambut merebut cahaya;

Jam berdetak: sulit kulihat.

Dekat dinding

Sebuah rak, penuh buku –

Banyak yang tetap tak dikenal.

Gambar-gambar yang kugantung

tampak bagai hantu, terlupakan,

garis-garis babut yang dulu mengucap jelas

kini hamper membisu.

Hari-hari lenyap, kemarin dan kini

Terbaring tanpa pertalian.

Di ruang sempit ini

Ada benda yang karib, begitu banyak yang asing,

Dan meja lintas sejenak

Lewat mata yang biasa terpejam.

Betapa banyak yang hilang dari apa yang kupandang.

Tapi tanpa acuh kusebrangi dan kusebrangi lagi

Jembatan antara yang dikenal dan tak dikenal.

Seseorang menaruh sebuah foto bocah

Di bawah bingkai kaca; cetakan memudar

Ramang mendekati bayangan

Dalam pikiran aku adalah Rabindranath,

Seperti ruang ini

Dalam bahasa kabur, mengharukan

Ada benda yang tampak terang, ada

Yang jauh tersembunyi di sudut.

Banyak yang hampir lupa kupindahkan

Seperti makna yang hilang ini,

Hari-hari silang menyusut

Menghapus haknya mengada.

Bayang-bayang lenyap di tengah yang baru

Dan abjad yang menggeram makna

Tak seorang telah membacanya.




=RABINDRANATH TAGORE=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar