Prahara bermula dari laut dosa telaga purba
mencoretkan dendam demi dendam manusia
di dinding-dinding laut terbuka
mengunyah darah dagingnya
Sepi berderit
mengayuh perahu-perahu ke hulu
di hilir sungai-sungai keruh
pasir di pantai menjeritkan keluh
ke angkasa luka
Tuhan kita terbunuh
di mana-mana
darahnya jadi sungai
mengalirkan racun nestapa
Angin menjulangkan ombak
ke langit hijau
mengetuk pintu demi pintu. Malaikat
dengan jari-jari putih
mencatatkan rindu demi rindu
pada daun-daun ungu
dan jendela-jendela termangu
Ombak laut hijauku
julangkan aku
ke pucuk sepimu sayup-sayup ke puncak sepiku
mereguk gerimis bulan sendu. Atau karamkan aku
ke laut tangismu karena perahuku telah kutambatkan
pada hijau lumut di batu-batu
1982
=B. Y. TAND=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar