Kamis, 06 Agustus 2015

NINABOBO karya : Budiman S. Hartojo

1

Malam yang panjang dan syahdu mengurungku

malam yang panjang memberiku impian warna beribu warna

Di sini kutemu kau

di sini kukenangkan engkau

Malam yang panjang adalah duniaku

malam yang panjang adalah piala di mana air mata

dan keluhku jatuh

Di sini kuratapkan kau,

di sini kupanggil engkau

sementara kujangkau tali yang terulur

dari sorga

Kuucapkan namamu sepanjang malam

kupanggil namamu sepanjang doa sembahyang

 

Engkau adalah mawar mungil di kebun

tertimpa fajar

Engkaulah kembang di taman larangan

berpagar

Seorang pengembara lewat dan tertegun

ia adalah pejalan sunyi yang letih

ia adalah aku

Seorang gadis kecil menerobos pagar

dan dipetiknya sekuntum mawar

Lalu ia pun menyanyi kecil

berlari dan menari

Alangkah indahnya dan mungil ia

aku memandang dan tersenyum kepadanya

 

Engkau adalah titik putih di langit

tinggi menghitam

engkaulah bintang-gemintang

Engkau adalah burung undan yang bertengger

di ranting pohon

di puncak dunia paling tinggi

di atas kabut memutih dan awan pegunungan

Hari ini kupejamkan mataku

dan tampak kau menengok jendelaku

Hari ini kulihat kau berdiri

di tengah segala gadis kotaku

dan mereka pun menari dan menyanyi

mengelilingimu

Kemudian kubuka mataku dan hari pun teranglah

Sebuah mimpi beterbangan

pecah di tengah siang

Kulihat di jalan depan rumahku

perempuan dan gadis-gadis lewat

tapi tak seorang di antara mereka kulihat

engkau berjalan mendekat

Ibuku yang tua pun menghampiri

dan menepuk bahuku

Aku menoleh dengan keluh

dan ratap yang rawan

Lalu keras-keras kunyanyikan laguku

bersama angin siang yang panas:

"Ke mana kutambatkan hatiku...."

 

Akulah orang mabuk yang letih

dan terengah-engah

berlarian di jalanan

dan bernyanyi sepanjang hari

Aku adalah orang gila yang meneriakkan

lagu ke segenap penjuru

Akulah orangnya

akulah yang bernyanyi, menangis

dan berteriak itu

Dan sekali lagi aku bernyanyi dan menangis

lalu berlari

lalu berlari ...

 

Dalam letihku aku pun berhenti

dan duduk

lalu kupejamkan mata

Sekali lagi engkau pun datang menghampir

tapi aku cuma pemabok dan orang gila

yang hilang arah

tapi akulah pula tenaga kata tanpa suara

Bahasa cinta, kata orang, tanpa tulis dan suara

kata-kata telah hilang harga artinya

huruf-huruf telah tiada lagi berbunyi bersuara

terkulai ia bagai seekor burung terbang

jatuh dari angkasa, menggelepar

dan mengepak-ngepakkan sayapnya yang patah

Bahasa cinta, konon, serangkai merjan

yang sukar dipisahkan warna dari cahya kilaunya

 

Siapakah engkau

dan kelak pada siapa tali hatimu kautambatkan?

Aku tak tahu

Siapakah engkau

dan kelak siapa pula kan mempersunting mawar

di pangkal rambutmu yang tergirai?

Aku tak tahu

Tapi kini dan besok

selalu kan kupinta perkenan padamu

buat selalu memujamu

Engkau adalah ikan mas dalam akuarium

yang mungil

berlenggang, menari, berenang

dalam riak air yang tak cukup kurenangi

Siapakah engkau

dan di manakah engkau?

Sesungguhnya aku tak tahu

 

Engkau telah pulangkan pengembara letih

yang lupa segala milik rohaninya

Ia kini tahu arti cinta, rumah dan keluarga

Telah engkau pulangkan ia

pada cinta bundanya

telah engkau tunjukkan ia

pada hakikat dan nilai harga dirinya

Maka bangkitlah ia dalam sulaman

sarang sutera cinta

Dan pengembara itu adalah

aku

 

Sekali, nanti pastilah datang kesempatan

di mana aku dan kau bersatu dengan alam

berjalan dan berbicara

bercakap dan bercerita

tentang masa kanak, tentang masa depan

seperti alam itu sendiri mengajarkannya

kepada kita

Maka malam yang panjang pun turunlah

maka kusebut namamu di antara doa-doaku

Maka kulihat engkau

dalam sujud gelisah-syahdu

sembahyang tahajudku...

 

2

 

Seakan akulah kini yang tegak berdiri

di pantai

memandang laut lepas tenang membiru

yang hidup dalam gejolak rindu

yang berkata-kata dalam bahasa bisu

Aku berdiri

berkawan anak-anak angin, pasir putih

dan cakrawala yang angkuh

dan gaib

Bersatu aku dengan suasana

dalam haru

dalam kenang

dalam ketiadaan bentuk alam

Aku lebur

 

Seakan akulah laut, angin, cakrawala

akulah semesta

Aku lebur

 

Dari sini kupandang engkau

di sini kukenang engkau

kekasih yang jauh memanggil

dan jiwaku yang menggigil

Aku lebur

 

Dari sini kulihat kotaku

Musim hujan di sana telah jatuh

berderai satu per satu

mencari cintaku

di mana ia berlabuh

KEmudian dibasuhnya keningku

dan bayangmu pun berkilau

Engkaukah itu

yang melenggang di pematang ombak

lautku?

 

Dulu pernah sekali aku pulang

seperti anak ayam hilang

tanpa induk tanpa sarang

Kukayuh sepeda dalam hujan

di atas becek jalanan berlumpur hitam

di atas aspal berkilap dalam kelam

Sekarang baru kurasakan di rumah ini

betapa indahnya ketenteraman

alangkah nikmatnya

alangkah hangatnya

kehidupan

Dulu pernah aku tiada semalam pun

pulang

keluar mengembara

Dan setelah kutemukan engkau

betapa kini bisa kurasakan

pulang ke rumah dalam kehangatan

Dulu pernah kuabaikan

suasana cinta-kasih bapa-bunda

sanak-saudara dan keakraban rumah kita

Dan setelah kini kulihat engkau

maka kulihat semuanya

Engkau telah pulangkan daku

dan kini kuantar engkau dalam impian

Duduklah di sampingku

berlayar menengok segala pantai dan laut

berlabuh di setiap kota sambil bercerita juga

tentang anak-anak kita

tentang penghuni tanah air yang bakal tiba

Sementara itu istirahatlah engkau

dan dengarkan ceritaku sebentar saja

 

Sekarang, karna kita bukanlah lagi kanak

yang terlena oleh bayang-bayang cinta usia pandak

atau terdesak oleh pikiran belum masak

mari kita bangunkan cinta menggunung

kekal bagai gurun

abadi bagai samudera

luas bagai angkasa

Diamlah, jangan lagi tangiskan

sajak sedih yang getir

cucuran darah penyair

Jangan lagi risaukan

suara langkahku yang membanjir

karna semuanya belum berakhir

Pandanglah aku

pandanglah laut depanmu

 

Kini kubawa engkau pulang dari segala impian

berjalan menyusuri setiap lorong dan jalanan

pulang menabikkan salam selamat malam

pada setiap orang

Mereka akan berbisik memperhatikan kita:

"Seperti hidup dalam cerita pendek saja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar