Senin, 03 Agustus 2015

DI BERANDA WAKTU HUJAN karya : Sapardi Djoko Damono

Kau sebut kenanganmu nyanyian (dan bukan matahari

yang menerbitkan debu jalanan, yang menajamkan

warna-warni bunga yang dirangkaikan)

yang menghapus jejak-jejak kaki, yang senantiasa berulang

dalam hujan.


Kau di beranda. sendiri,

“Ke mana pula burung-burung itu (yang bahkan

tak pernah kau lihat, yang menjelma semacam nyanyian,

semacam keheningan) terbang; ke mana pula siut daun

yang berayun jatuh dalam setiap impian?”

(Dan bukan kemarau yang membersihkan langit,

yang pelahan mengendap di udara)


kausebut cintamu penghujan panjang, yang tak habis-habisnya

membersihkan debu, yang bernyanyi di halaman.

Di beranda kau duduk

sendiri, “Di mana pula sekawanan kupu-kupu itu,

menghindar dari pandangku; di mana pula

(ah, tidak!) rinduku yang dahulu?”

 

Kau pun di beranda, mendengar dan tak mendengar

kepada hujan, sendiri,

“Di manakah sorgaku itu: nyanyian

yang pernah mereka ajarkan padaku dahulu,

kata demi kata yang pernah kuhafal

bahkan dalam igauanku?”


Dan kausebut hidupmu sore hari (dan bukan siang

yang bernafas dengan sengit yang tiba-tiba mengeras di bawah matahari)

yang basah,

yang meleleh dalam senandung hujan,

yang larut.

Amin.

 



1970

=SAPARDI DJOKO DAMONO=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar