Kamis, 13 Agustus 2015

DALAM KERETA BAWAH TANAH, CHICAGO karya : Sapardi Djoko Damono

“Siapakah namamu?” barangkali aku setengah tertidur waktu

       kautanyakan itu lagi. Bangku-bangku yang separo kosong,     

       beberapa wajah yang seperti mata tombak, dan dari jendela:

       siluet di atas dasar hitam. Aku pun tak pernah menjawabmu,

       bahkan ketika kautanyakan jam berapa saat kematianku,

       sebab kau toh tak pernah ada tatkala aku sepenuhnya terjaga.

 

Baiklah, hari ini kita namakan saja ia ketakutan, atau apa

      sajalah. Di saat lain barangkali ia menjadi milik seorang

      pahlawan, atau seorang budak, atau pak guru yang mengajar

      anak-anak bernyanyi – tetapi manakah yang lebih deras

      denyutnya, jantung manusia atau arloji (yang biasa

      menghitung nafas kita), ketika seorang membayangkan

      sepucuk pestol teracu ke arahnya? Atau tak usah saja kita

      namakan apa-apa; kau pun sibuk mengulang-ulang per-

      tanyaan yang itu-itu juga, sementara aku hanya separo ter-  

      jaga.

 

Seandainya -

 

 



=SAPARDI DJOKO DAMONO=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar