Kamis, 20 Agustus 2015

CATATAN SEORANG PEMBUAT KOMIK karya : Hasan Aspahani

SUDAH kuduga dia: tokoh komik yang baru saja

terbunuh di lembar terakhir cerita. Aku sangat

mengenal efek bunyi langkah kakinya. Dan, zing!

Tajam suara sunyi, bunyi diamnya. Tapi, siapa yang

terakhir memegang kunci studio? Aku hanya ingat

pesuruh kantor yang kuminta membakar sisa-sisa A3

 

Sia-sia bergegas. Alamat dan rumah ternyata telah

terkemas, bersama kuas, pensil 3B, dan tinta cina.

Aku pun ternyata ada di sana: di dalam ransel kerja

yang selalu didekap dada – kadang di kepala. Ada

skenario gambar-gambar, narasi adegan, teks, dan

balon-balon ucapan yang belum digelembungkan.

“Mari pulang ke komik kita, Saudara. Engkau

sebenarnya hendak merantau ke mana?” Siapa yang

berkata? Rasanya aku tak pernah menuliskan

kalimat yang diterbangkan tokoh komik itu.

 

Aku ternyata telah lama kehilangan rumah, karena

telalu asyik dengan denah-denah, sketsa adegan,

juga karakter tokoh-tokoh, map-map kertas, lemari

arsip, rancangan sampul. “Masih ingat? Di toko

alat tulis mana terakhir kali engkau singgah?” Ah,

sudah lama aku tidak belanja. Terakhir kali aku lupa

membeli karet penghapus. Aku tidak detil dengan

urusan kenangan dan daftar belanja.

 

Masih juga, ada yang terus mengikuti langkahku.

Bahkan ketika aku kembali ke studio, melangkah

melawan arah rumah, bahkan ketika kunyalakan

lampu di atas meja gambar. Pasti dia juga  yang

membuat makam sendiri pada kertas-kertas yang

terbakar, eh ada batu nisan yang minta diberi

nama dan tanggal kematian. “Namamu sendiri,

Saudara. Kau tidak melupakannya, bukan?”




=HASAN ASPAHANI=

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar