Selasa, 21 Juli 2015

AKU BELAJAR MENULIS PUISI karya : Emha Ainun Nadjib

Bebatuan berhembus

Air mengucur ke langit

Tatkala matahari menaburi malam

Di atas gedung-gedung yang berlarian

menggedor pucuk-pucuk dedaunan

 

Segumpal rambut membuntu jalan tol

Sekeranjang angin tidur mendengkur di lobang jarum

Gunung-gunung lari berbaris mengitari pusarmu

Sementara pabrik-pabrik dan cerobong-cerobong

berkejaran di sela gigi-gigiku

 

Adakah wastafel telah reda

Apakah sup jagung telah menemukan kemanusiaannya

Karena seusai malam, sore segera tiba

Karena jika langit dan rel-rel dikulum

pasti ungu rasanya

 

Wacana, wahai, wacana

Kuda-kuda melata, buku-buku menetes dari kelopak mata

Tuliskan puisi di ujung lumpur yang menyala

Pegang erat-erat setiap bola tepat di tangkainya

 

Sang penyair berdiri tegak sambil bersila

Cakrawala dalam cangkir dikunyah-kunyahnya

Suara klakson dari barisan ekor-ekor serigala

Ia hirup dengan telapak tangan

yang menangis bagai sejumput bola

 

Tiang-tiang listrik dan kabel-kabel minyak bertanya

Ketika tidur, ke manakah penyair mengembara

Tidur ialah seekor sambal yang menyusun sunyi yang dingin

Pengembaraan adalah batu-bata yang berubah kelamin

 

Jari kelingkingmu membaca suara:

Para penyair sedang memperdebatkan kegelapan

O, o, perjalanan para penyair belum tiba di gelap

Betapa lagi di cahaya!

 



1994

=EMHA AINUN NADJIB=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar