Bebatuan berhembus
Air mengucur ke langit
Tatkala matahari menaburi malam
Di atas gedung-gedung yang berlarian
menggedor pucuk-pucuk dedaunan
Segumpal rambut membuntu jalan tol
Sekeranjang angin tidur mendengkur di lobang jarum
Gunung-gunung lari berbaris mengitari pusarmu
Sementara pabrik-pabrik dan cerobong-cerobong
berkejaran di sela gigi-gigiku
Adakah wastafel telah reda
Apakah sup jagung telah menemukan kemanusiaannya
Karena seusai malam, sore segera tiba
Karena jika langit dan rel-rel dikulum
pasti ungu rasanya
Wacana, wahai, wacana
Kuda-kuda melata, buku-buku menetes dari kelopak mata
Tuliskan puisi di ujung lumpur yang menyala
Pegang erat-erat setiap bola tepat di tangkainya
Sang penyair berdiri tegak sambil bersila
Cakrawala dalam cangkir dikunyah-kunyahnya
Suara klakson dari barisan ekor-ekor serigala
Ia hirup dengan telapak tangan
yang menangis bagai sejumput bola
Tiang-tiang listrik dan kabel-kabel minyak bertanya
Ketika tidur, ke manakah penyair mengembara
Tidur ialah seekor sambal yang menyusun sunyi yang dingin
Pengembaraan adalah batu-bata yang berubah kelamin
Jari kelingkingmu membaca suara:
Para penyair sedang memperdebatkan kegelapan
O, o, perjalanan para penyair belum tiba di gelap
Betapa lagi di cahaya!
1994
=EMHA AINUN NADJIB=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar