Selasa, 21 Juli 2015

PUISI-PUISI HILANG karya : Emha Ainun Nadjib

Puisi-puisiku menghilang dari biliknya

Pintu jebol, daun jendela copot, lemari ambruk,

laci dan rak terserak-serak

Gelas minumku terlempar ke tembok,

kertas-kertas berhamburan

merobek-robek dirinya

 

Di luar, langit sangat, sangat, redup

Aku terbangun dari tidur, dan terbanting!

Puisi-puisiku minggat dari jiwaku

Kamu? Kulihat sebaik sajak teronggok di pojok,

kuhampiri wajahnya memar, cahayanya

merah padam tapi ia tertawa-tawa

 

Jangan menipu! Aku tahu kamu nangis

Aku tahu hati sajakku terkeping-keping,

huruf-hurufnya mengelupas dari maknanya

Huruf-huruf sajakku berpindah tempat secara massal,

mencari sahabatnya masing-masing,

menemukan rangkaiannya sendiri-sendiri,

bergenggaman tangan satu sama lain,

mengacungkan tinju, menegakkan kemauan

mereka sendiri sambil memekik-mekik

 

Kata demi kata pecah, mengurai, robek

terpencar dan berdarah

Kalimat-kalimat berpatahan,

kalimat-kalimat tidak mengakui dirinya,

bait-bait ambruk, judulnya diusir

 

Huruf-huruf berteriak:

“Siapa yang mengumpulkan kita di sini?

Siapa penguasa yang merangkai-rangkai kita,

memperbudak kita, menjadikan kita

gumpalan-gumpalan keindahan,

sesuai hanya dengan kehendaknya?

Siapa itu yang memaksa kita

menjadi tumpukan batu-bata

bangunan klenik dan kepengecutan?”

 

Huruf-huruf menggeram:

“Ini bukan aku. Dan di sini bukan tempatku.”

 



1994

=EMHA AINUN NADJIB=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar