Puisi-puisiku menghilang dari biliknya
Pintu jebol, daun jendela copot, lemari ambruk,
laci dan rak terserak-serak
Gelas minumku terlempar ke tembok,
kertas-kertas berhamburan
merobek-robek dirinya
Di luar, langit sangat, sangat, redup
Aku terbangun dari tidur, dan terbanting!
Puisi-puisiku minggat dari jiwaku
Kamu? Kulihat sebaik sajak teronggok di pojok,
kuhampiri wajahnya memar, cahayanya
merah padam tapi ia tertawa-tawa
Jangan menipu! Aku tahu kamu nangis
Aku tahu hati sajakku terkeping-keping,
huruf-hurufnya mengelupas dari maknanya
Huruf-huruf sajakku berpindah tempat secara massal,
mencari sahabatnya masing-masing,
menemukan rangkaiannya sendiri-sendiri,
bergenggaman tangan satu sama lain,
mengacungkan tinju, menegakkan kemauan
mereka sendiri sambil memekik-mekik
Kata demi kata pecah, mengurai, robek
terpencar dan berdarah
Kalimat-kalimat berpatahan,
kalimat-kalimat tidak mengakui dirinya,
bait-bait ambruk, judulnya diusir
Huruf-huruf berteriak:
“Siapa yang mengumpulkan kita di sini?
Siapa penguasa yang merangkai-rangkai kita,
memperbudak kita, menjadikan kita
gumpalan-gumpalan keindahan,
sesuai hanya dengan kehendaknya?
Siapa itu yang memaksa kita
menjadi tumpukan batu-bata
bangunan klenik dan kepengecutan?”
Huruf-huruf menggeram:
“Ini bukan aku. Dan di sini bukan tempatku.”
1994
=EMHA AINUN NADJIB=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar