Sabtu, 11 Juli 2015

RUMAH COR API karya : Emha Ainun Nadjib

 

Demi keadilan

hukum disingkirkan

Demi kebenaran

pengabulan ganti rugi dibatalkan

Demi ketenteraman

Air ludah harus kembali ditelan

 

Karena cahaya kemajuan harus memancar

Maka panduan dan penerangan harus luas tersebar

Karena program-program pembangunan harus lancar

Maka terkadang pasar ini dan bangunan itu perlu dibakar

 

Lihatlah rumah-rumah cor api

Lihatlah gedung-gedung berdiri di atas kuburan

Batu-batanya terbuat dari kesengsaraan dan airmata

Tembok-temboknya rekat oleh akumulasi ratapan

Tiang-tiangnya tegak karena disangga oleh pengorbanan

 

Di seberang itu engkau memandang

Rumah-rumah didirikan

Dekat di sisiku aku saksikan

Rumah-rumah digilas dan dirobohkan

 

Nun di sana engkau melihat

Rumah-rumah disusun-susun

Nun di sini aku menatap

Penduduk terusir berduyun-duyun

 

Ketika engkau berdiri di depan

hamparan tanah luas yang engkau beli

untuk mendirikan ratusan rumah dan

ribuan pemukiman manusia abad 21,

pernahkah terlintas di kepalamu

ingatan tentang beribu-ribu saudara-saudaramu

yang kehilangan tanahnya

 

Pernahkah engkau ingat betapa beribu-ribu orang itu

tak dianggap memiliki hak untuk mempertahankan tanahnya,

dan ketika mereka terpaksa menjualnya,

mereka juga tak dianggap memiliki hak untuk menentukan

harga petak-petak tanah mereka

 

Ketika engkau menempati rumah itu, tahukah engkau

siapa nama tukang-tukang yang menumpuk batu-batanya,

yang mengangkut pasir dan memasang genting-genting

 

Ketika engkau memijakkan kakimu di lantai rumahmu

dan meletakkan punggungmu di kasur ranjang,

pernahkah engkau catat kemungkinan muatan

korupsi dan kolusi di dalam proses pembuatannya,

sejak tahap tender sampai

pemasangan cungkup di puncaknya

 

Bagi berjuta-juta saudara-saudaramu yang

tak senasib denganmu, yang bertempat tinggal

tidak di pusat uang dan kekuasaan:

pernah engkau sekedar berdoa saja

bagi kesejahteraan mereka

 

Dunia sudah amat tua

Darahnya kita hisap bersama-sama

Kehidupan semakin rapuh

Dan sakit kita tidak semakin sembuh

Langit robek-robek

Badan kita akan semakin dipanggang hawa panas

Sejumlah pulau akan tenggelam

Lainnya menjadi rawa-rawa

Anak cucumu akan hidup sengsara

Karena rangsum alam bagi masa depan

telah dihisap dengan semena-mena



 

1994

=EMHA AINUN NADJIB=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar