Kereta itu melintas pelan di hadapanku
Menaburkan bunga-bunga ungu
Kuhirup kuntum demi kuntum karena tak tahu
Siapa mesti kucium. Stasiun hanya menunggu
Di deretan bangku masih tersimpan senyap dan seribu
Alamat. Tapi kereta terakhir telah lewat
Mengurungkan kiamat
Mungkin aku telah menjemputmu
Mungkin juga telah kehilangan jejakmu
Tapi kenapa rel begitu dingin dan kabut tak juga luruh
Di kejauhan kudengar lengking panjang azan subuh
=ACEP ZAMZAM NOOR=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar