Inilah kaba nan terpendam dalam
ngarai. Inilah kaba nan hilang
di kabut Singgalang. Inilah kaba:
"sirah sirah sirah sirah!" Kata mengerang
dari tatapan nan tajam. Kata meloncat
dari bibir nan menderu deram mengucap:
"Allah Allah Allah Allah Allah ..."
Inilah kaba suatu nagari suatu saat didekap
"sirah sirah sirah sirah!" Suatu laknat!
Pada mulanya adalah ludah: pfuuuh!
Musafir jadi menggigil
terpatah sapa berwujud pinta:
"sedekahlah sedekahlah sedekahlah ..."
Dan gigil jadi ngilu nan menggelombang
naik: amarah. Menggelombang turun:
ah, apalah. Inilah keraguan sang peminta:
adakah ludah mengundang lidah memanjatkan doa
" O Nan Maha Pemurah, limpahkanlah
azab-Mu pada peludah!" ataukah
"O Nan Maha Pemaaf, ampunilah
sahabatku nan pongah!" Inilah cabang
jauh di dalam beradu erang beradu serang.
Maka Islamlah adanya: pasrah pada-Nya
Maka musafir pun memuara ke telaga merendam rasa
kemudian hilang mendebu cahaya di 'Arasy-Nya
Dan "sirah sirah sirah sirah sirah" pun mengerang
dari sahabat Allah nan menderu dendang malam dan siang
"Allah Allah Allah Allah Allah Allah!"
Orang-orang pun mengerinyitkan kening:
gerangan apa sirah apa igau apa sinting?
Lalu ada nan gelak ada nan mendecak
pun rusuh pun acuh pun aduh pun
anggapan terucapkan:
"kasihan, buya tua jadi kurang satu
sen satu keping satu harga satu senti!" Inilah
kebutaan nan menidurkan! Inilah igauan dari mimpi
nan menyedihkan! Inilah kasihan nan aduhai kasihan!
Begitulah "sirah sirah sirah sirah!" bukan tinggal kata
bukan tinggal igau bukan tinggal keping-keping nan sinting!
"Sirah sirah sirah sirah!" ada dalam nyata
ada dalam rumah mereka ada dalam pongah mereka
membakar membara mengabuhampakan makna
segala nan terpeluk nan tereguk!
Inilah kaba nan terjadi si suatu nagari
di bibir ngarai di kaki Singgalang. Inilah kaba
nan meloncat dari mulut ke mulut nan tinggal renta
"Sirah sirah sirah sirah sirah!" Suatu laknat!
1974
=HAMID JABBAR=
(Kaba Sirah = Kabar / berita / peristiwa Merah: mengenang "kebakaran" 1965)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar