seluruh sunyi telah kita dekap dalam degup rindu, sore itu. tapi
selalu ada gema, seakan kumandang karang dari perah hatimu.
kubaca jengkal tanganmu dalam perih doaku, hingga kita paham:
di kamar paling gaib pun sunyi berpintalan dengan diam. lalu
kita menangis di helai-helai waktu yang membakar. kita pun
berkobar, menari, menggali luka sunyi luka diam dalam firman
malam
azan magrib itu kini jadi burung. mengepak dalam airmatamu
yang tertahan di doaku. terbang mendekap rindu di antara
reranting nafasku
adakah yang lebih dalam dari dekap burung pada rindu?
2002
=JAMAL D. RAHMAN=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar