Kamis, 23 Juli 2015

30 MENIT SEBELUM SAYID HAMID karya : Goenawan Mohammad


 

30 menit sebelum Sayid Hamid Benengeli

menghentikan hikayatnya, Don Quixote telah merasa

sesuatu tengah terjadi.

 

Senja mencegatnya di jalan turun ke utara, setelah

San Cristobal. Duduk gontai di punggung Rocinante, ia

melihat ke langit, mencari arah. Tapi bintang tampak

kembung, bimasakti keruh, dan di belakangnya, tak

ada lagi rasi salib selatan.

 

Dataran kering di bawah itu seakan-akan negeri yang

tak pernah memanggilnya.

 

Ia merasa letih sebenarnya, setelah Sierra Morena.

Ia berbisik, seperti berdoa: “Jika aku boleh memilih,

Sayid, aku tak ingin di sini lagi.”

 

Tapi malam adalah monolog pohon-pohon. Bahkan

di tebing Guadalen yang hitam, suara arus ikut

mengambil alih percakapan.

 

Barangkali kita hanya sebuah

parodi, ia ingin berkata lagi,

tapi ia tak yakin kepada siapa,

Sancho, teman yang setia itu,

hanya memandangi gerak

sungai. Ia mungkin telah

merasa, hari tak akan lagi

berani sia-sia: Dulcinea adalah

cinta yang gagu, tuanku,

imajinasi adalah kabut pagi.

 

Dan selebihnya sunyi.

 

Don Quixote mengerti. Pada saat itulah Sayid Hamid

Benengeli mulai membuat tanda terakhir dengan

dawat di kertasnya, seperti sebuah titik, seperti

melankoli. Meskipun yang ingin ditulisnya sederet

epilog yang berbahagia: “Dan Don Quixote pun

melihat, pahlawan terakhir itu telah direnggutkan

jantungnya.”

 

“Ya, di jurang gua.”

 



2007 

=GOENAWAN MOHAMMAD=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar