Sabtu, 11 Juli 2015

SYAIR HERAN karya : Emha Ainun Nadjib

 

(1)

Aku mendengar engkau berkata tentang kemiskinan

Aku mendengar dengan manisnya engkau berjanji

akan mengentaskan orang-orang

dari kemiskinan mereka

 

Hatiku lega, meskipun dengan kepercayaan yang

belum sepenuhnya: sesudah 25 tahun, akhirnya

pembangunan yang sejati (mudah-mudahan) dimulai juga

 

(2)

Tetapi kalau ada seseorang yang kelaparan

dan hingga larut malam tak sejumput

makananan pun ia berhasil dapatkan

 

Kepada siapakah sebaiknya ia mengeluh? Pintu

rumah siapakah yang boleh ia ketuk?

Kantor manakah yang pernah berpikir untuk

membuka diri terhadapnya?

 

Orang yang kelaparan, apakah seyogyanya datang

mengadukan keadaannya ke Dinas Sosial?

Ke Kantor Kementerian Dalam Negeri? Atau

mungkin lebih ke Majlis Ulama?

 

Orang yang sedih dan tidak sanggup membeli

keriangan, orang yang sakit dan tak punya

biaya untuk membeli kesembuhan, ke manakah

harus pergi?

 

Biasanya mereka bertamu ke rumah Tuhan, tetapi

Tuhan menjawab keluhan mereka: “Lho,

hal-hal seperti itu sudah Kumandatkan kepada

para khalifahKu untuk menanganinya. Alam

anugerahKu telah Kuhamparkan secara

sangat berkecukupan.”

 

Orang-orang yang lapar, sakit dan kesepian itu

lantas menangis, tetapi adakah pasal dalam

buku hukum atau dalam garis-garis besar

haluan kebangsaan ini yang mengharuskan

seseorang mendengarkan tangis mereka?

 

Mungkin ada kawan, sahabat-sahabat karib atau

tetangga yang pasti bermurah hati memberi

mereka makan, menghibur hati mereka serta

menyembuhkan sakit mereka

 

Tetapi apakah sahabat dan para tetangga

bertanggungjawab atas kelaparan mereka?

 

Dan kalau jumlah orang yang kelaparan, yang

sakit dan kesepian ternyata beribu-ribu,

bahkan berjuta-juta – adakah lembaga yang

bertugas untuk merasa malu? Apakah NU dan

Muhammadiyah bertanggungjawab atas keadaan

orang-orang itu? Bisa jenakkah para

Menteri duduk di kursinya?

 

(3)

Sangat sukar dipahami bagaimana seseorang bisa

tentetam menjadi pemimpin, sedang

di hadapannya beratus orang kehilangan

sawah nafkahnya demi satu lobang kecil

untuk bola mainan kanak-kanak yang bernama golf

 

Sangat tidak masuk akal bagaimana masih ada

kata-kata yang bisa muncul dengan mantap

dari mulut seorang pemimpin, tatkala

berjuta-juta orang membayarkan nasibnya

untuk kesejahteraan sejumlah kecil

orang-orang sebangsanya sendiri

 

Sangat tidak bisa dipercaya bahwa mungkin ada

Menteri yang dipilih karena hatinya tuli

atau karena mata batinnya rabun

 

Namun juga sangat menakjubkan, bahwa ada rakyat

di suatu negeri, yang memiliki pribadi-

pribadi sedemikian kuat, sehingga ketika

seluruh hidupnya dirampok, mereka tetap

tersenyum dan ikhlas

 

Para malaikat menegur: “Betapa indahnya

keikhlasan, namun bukan di situ tempatnya.”

 

(4)

Sangatlah tidak nyaman bahwa terkadang kita

tidak punya kemungkinan untuk

menghalus-haluskan kata

 

Bangsa ini memiliki ribuan cara untuk bersopan

santun dan menutup-nutupi

 

Namun hendaknya ada satu hari khusus untuk

berkata apa adanya: misalnya bahwa negeri

ini terlalu banyak maling

 

Bahwa kita adalah masyarakat miskin yang setiap

(saat) mengintip kemungkinan untuk maling

 

Agak memalukan bahwa ternyata yang kita pilih

adalah kemiskinan

 

Sedemikian seriusnya kemiskinan kita

sehingga kita membutuhkan berpuluh

rumah, beratus perusahaan, berjenis-jenis mobil

 

Semakin tinggi tumpukan kekayaan kita,

semakin serius tingkat kemiskinan kita

 

Sebab tanda bahwa seseorang miskin ialah

apabila ia butuh

 

Tanda bahwa seseorang itu melarat, ialah

jika terbukti ia serakah

 

Tanda bahwa seseorang itu fakir, ialah

jika ia bernafsu untuk merampok,

memonopoli, merebut apa saja yang bukan miliknya

 

Adapun orang kaya tak terdorong untuk

melakukan hal demikian

 

Karena hanya orang kaya yang bisa kenyang

oleh kesederhanaan, yang sanggup

memberikan apa saja tanpa segan

tanpa rasa eman

 

(5)

Jadi, seingatku kita sendirilah

yang merancang kemiskinan

 

Kemiskinan mutlak berjuta-juta orang

serta kemiskinan yang lebih absolut

lagi dari jiwa kita sendiri

 

Setahuku kita sendiri

yang menciptakan kesenjangan

 

Kepada Tuhan bersikap penuh kesombongan,

kepada rakyat kecil penuh sikap merendahkan

 

Seingatku kita sendiri yang menyelenggarakan

penggusuran-penggusuran

 

Setahuku kita sendiri yang tak kunjung henti

men-juklak-juknis-kan keserakahan



 

1993

=EMHA AINUN NADJIB=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar