Selasa, 07 Juli 2015

PUTRA SANG FAJAR karya : Ir. Soekarno


Abad ini adalah suatu zaman di mana bangsa-bangsa baru

dan merdeka di benua Asia dan Afrika mulai berkembang

Berkembangnya negara-negara sosialis

yang meliputi seribu juta manusia

Abad ini pun dinamakan abad atom

dan abad ruang angkasa

 

Dan mereka yang dilahirkan dalam Abad Revolusi kemanusiaan ini

terpikat oleh suatu kewajiban untuk menjalankan

tugas-tugas kepahlawanan

 

Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam

Tanggal enam bulan enam. Adalah menjadi nasibku yang

paling baik untuk dilahirkan dengan bintang Gemini,

lambang kekembaran. Dan memang itulah sesungguhnya

Dua sifat yang berlawanan

Aku bisa lunak dan aku bisa cerewet

Aku bisa keras dan laksana baja

dan aku bisa lembut berirama

Pembawaanku adalah paduan dari pada

pikiran sehat dan getaran perasaan.

Aku seorang yang suka memaafkan,

akan tetapi aku pun seorang yang keras kepala

Aku menjebloskan musuh-musuh negara ke belakang jerajak besi

namun demikian aku tidak sampai hati

membiarkan burung terkurung di dalam sangkar

 

Aku menjatuhkan hukuman mati

namun aku tak pernah mengangkat tangan

untuk memukul mati seekor nyamuk

sebaliknya aku berbisik kepada binatang itu

“hayo, nyamuk, pergilah

jangan kau gigit aku”

 

Karena aku terdiri dari dua belahan

aku dapat memperlihatkan segala rupa

aku dapat mengerti segala pihak

aku memimpin semua orang

boleh jadi ini secara kebetulan bersamaan

boleh jadi juga pertanda lain.

Akan tetapi kedua belahan dari watakku itu

menjadikanku seorang yang merangkul semuanya.

 

Ibu telah memberikan pangestu kepadaku

ketika aku baru berumur beberapa tahun

Di pagi itu ia sudah bangun sebelum matahari terbit

dan duduk di dalam gelap di beranda muka kami yang kecil

tiada bergerak. Ia tidak berbuat apa-apa

ia tiada berkata apa-apa

hanya memandang arah ke timur

dan dengan sabar menantikan hari akan siang

 

Aku pun bangun dan mendekatinya

diulurkannya kedua belah tangannya

dan meraih badanku yang kecil ke dalam pelukannya

Sambil mendekapkan tubuhku ke dadanya

ia memelukku dengan tenang.

Kemudian dia berbicara dengan suara lunak

“Engkau sedang memandangi fajar, nak.

Ibu katakan kepadamu, kelak engkau akan menjadi

orang yang mulia, engkau akan menjadi

pemimpin dari rakyat kita.

Karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi

di saat fajar mulai menyingsing

Kita orang jawa mempunyai satu kepercayaan

bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit

nasibnya telah ditakdirkan terlebih dahulu

Jangan lupakan itu

Jangan sekali-kali kau lupakan, nak bahwa

engkau ini putra dari Sang Fajar.”

 

Bersamaan dengan kelahiranku

menyingsinglah fajar dari suatu hari yang baru

dan menyingsing pulalah fajar dari satu abad yang baru

Karena aku dilahirkan di tahun 1901

 

Bagi Bangsa Indonesia abad ke sembilan belas

merupakan zaman yang gelap

sedangkan zaman sekarang baginya adalah

zaman yang terang-benderang dalam menaiknya

pasang revolusi kemanusiaan

 

Masih ada pertanda lain ketika aku dilahirkan

Gunung Kelud, yang tidak jauh letaknya dari tempat kami, meletus

Orang yang percaya kepada tahyul meramalkan,

“Ini adalah penyambutan terhadap bayi Sukarno”

 

Sebaliknya orang Bali mempunyai kepercayaan lain

kalau Gunung Agung meletus ini berarti

bahwa rakyat telah melakukan maksiat

Jadi orang pun dapat mengatakan

bahwa Gunung Kelud sebenarnya tidak menyambut bayi Sukarno

Gunung Kelud malah menyatakan kemarahannya

karena anak yang jahat lahir ke muka bumi ini

Berlainan dengan pertanda-pertanda yang

mengiringi kelahiran itu

maka kelahiran itu sendiri sangatlah menyedihkan

Bapak tidak mampu memanggil dukun

untuk menolong anak yang akan lahir

 

Keadaan kami terlalu ketiadaan

Satu-satunya orang yang menghadapi itu

ialah seorang kawan dari keluarga kami

seorang kakek yang sudah terlalu amat tua

Dialah, dan tak ada orang lain selain orang tua itu

yang menyambutku menginjak dunia ini.




=Ir. SOEKARNO=

(dari buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”, hlm. 24, 25, 26)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar