Kamis, 09 Juli 2015

PERAHU MENINGGALKAN PANTAI karya : Isbedy Stiawan ZS

 

(1)

kembali meninggalkan pantai, selagi angin diam

dan malam curam. arahkan kemudi, pancangkan

layar. ombak berbuncah buang tuah. ini waktu

perahu makin laju. melambai dalam kenang

 

jauh di balik pulau, kau menunggu. akulah

pengantin yang lama merindu pelaminan

“duhai pantai yang menyimpan tasbih

jangan panggil lagi pelayar ini kembali

sebelum habis laut kulayari,” bisik perahu

 

perahu meninggalkan pantai malam ini

dan akan kembali esok pagi

ketika fajar bangun dari bolamatamu

yang menawan

 

(2)

perahu pun sampai

pada capaimu

 

hening waktu

bening lautmu

gelombang berbuncah

dalam jiwaku

 

pada keluasan

tiada lagi nama-nama

yang kutulis di pantai,

di pasir, di bakau-bakau

 

pada pelayaran ini

aku telah melipat badai

sebagai biji-biji tasbih

dalam kantung jubahku

 

engkau maha-laut

bagiku berlayar

malam-malam …

 

(3)

perahu tua yang tertambat itu kini menjelma dalam tidurku

ketika malam berbintang. aku pun menuruni pasir pantai

yang kau hamparkan berabad-abad. “segeralah naik

sebelum banjir datang,” ajakmu.

 

aku terpesona pada parasmu. malam dicahayai purnama

sewaktu aku buru perahumu, sebelum pantai

pasang. sebelum banjir itu datang …

 

kutinggalkan pantai dengan segala kecupan. aku pun

mengaliri laut ke dalam gelombangmu

 

“kaulah laut yang selalu datang dalam mimpiku

membawa perahu dan seribu pulau,” kataku

sambil mengeringkan lautku dalam diri!

 

perahu tua yang dulu tertambat itu menjelma

dalam diriku. malam kini berdegup di hatiku.

 

(4)

perahu yang kurindu kini telah berlayar. pantai jadi

kian hening di dalam lembaran peta masa silam

yang kurajah dengan bismillah

 

aku pun jadi piatu di ujung pasir pantai ini

menanti perahu lain tiba

membawa pesanmu

 

bertahun-tahun aku menunggu

bertahun-tahun pula aku rindu

pada mahakasih-lautmu

 

beri aku sebuah perahu

untuk mendedah rahasia pesanmu

 

(5)

jangan hitung berapa gigil kukalungkan di jubahku

bila kau akan ganti dengan sorbanmu

 

lalu kurangkai kabut yang lelap di pantai ini

jadi perahu menyeberangi laut mahaluasmu

 

kuburu nuh, ibrahim, dan isa

yang dikejar-kejar pengkhianat

 

kucari namaku dalam diri para nabi

sampai usai di diri muhammad

 

aku kini telah sampai

ke kedalaman laut-Mu

 

(6)

hanya pada keluasan laut

aku bisa tahu batas pantai

maka kularungi perahu dalam diri

menyerpihi badai demi badai

 

kulupakan pasir yang telah menumbuhkan bakau,

juga bekas telapak kakiku yang terluka

sepanjang pantai:

                                    senja tadi

 

lalu kutandai bekas luka itu sebelum malam

menggelepar dalam jaringmu

 

dan laut melipat tubuhku

serupa memeram anak kepompong

menggeliat pada sabda-Mu

 

(7)

ku tak pernah takut ketika perahu ini

membawaku ke dalam paling malam

sebab di tanganku seribu tasbih

menguntai namanamamu

yang kupetik dari pohon jiwa

 

sudah kuselesaikan percintaanku pada pantai,

pada pasir, pada lumpur, dan ilalang

kini giliranku menuju pulau jauh

melipat laut hingga jadi zikirku

 

subhanallah!

aku jadi imam bagi diriku

di atas perahu ini

menerima titah

langkahku yang patah

 

(8)

sudah lama tak kulihat iringan panjang

melintas pantai yang luka ini

malam perih, langit payung hitam

dalam gerimis yang tajam

 

perahu tua yang tersimpan dalam kitab

masih setia menunggu di dekat bongkahan batu

tapi tiada lagi lelaki tua yang selalu melambai

dan menarik iringan panjang itu berlayar

 

segalanya sunyi

malam mati

di bawah gerimis yang belati

 

hidup menjadi terlunta

di pantai tak bernama

menatap rahasia segara

 

“arungkan perahu tua itu,

arungkan. sekali lagi

sebelum banjir melumat,” kata anak itu

 

pantai pun kembali sepi

laut pun penuh lelampu

 

(9)

akulah pelayar yang baru selesai

meredamkan badai hingga perahu kembali

melarung ke laut paling sunyi. di kepalaku langit

membentang, bintang-bintang

mencahayai perjalananku

   selesai sudah kuredakan badai yang datang

     sejak perahu meninggalkan

pantai. malam bersinar. perahuku menjelma kupu-kupu,

   sayapnya ditumbuhi

cahaya. kubiarkan terbang ke langit yang warna.

membawa tubuhku pula…

 

pantai yang kutinggalkan meranggas bakau

dari payau ini kularungkan

perahu menuju pulaumu yang sunyi. kubangun

firdaus di sana seperti adam

pertama kali merindu kekasih

seperti hawa sebelum terlunta

mengunyah sepanjang masa!

 

dikawal oleh angin yang lunglai aku

mengendarai perahu sampai

masuk ke dalam igaumu. mengadukan segala

kenangan luka di pantai:

“ini perahu baruku bikinan nuh, izinkan

aku melaut …”

 

(10)

perahu yang tertambat di bukit tua itu kini menghanyut

                                                 ke dalam malamku. “hai

orang berselimut. bangun dan melautlah, selagi angin

     pantai dan ombak tak

berbadai,” bisikmu. aku pun bangun lalu menuju perahu

yang sekejap lagi

meninggalkan pantai.

 

inilah pelayaran malamku sekali lagi. yang jauh. sudah

   berapa pulau kulintasi,

sudah berapa kedalaman kurenangi. aku kini makin

                                        mencapai adamu. dalam zikir

aku mabuk. laut membuncah di dalam tarikan napasku.

      aku mencari, kau menjumpa.

dari pelayaran malam yang kelam, tak habis-habis

  kulafaskan segala dermagamu.

 

“wahai orang berselimut, bangun dan berlayarlah.

lepaskan pakaian tidurmu,

selimut yang membuatmu mendengkur,” bisikmu

   berlayarlah ke keluasan

lautku. malam akan selalu menjagamu. layar akan

    melindungimu. lafaskan segala

nama dari dalam hatimu

 

jangan ingin berhenti. berlayarlah, berlayar!

laut akan membawamu kembali ke pantai. ke bukit tua

yang jauh

tempat perahumu melepas sauh

 




=ISBEDY STIAWAN ZS=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar