(1)
kembali meninggalkan pantai, selagi angin diam
dan malam curam. arahkan kemudi, pancangkan
layar. ombak berbuncah buang tuah. ini waktu
perahu makin laju. melambai dalam kenang
jauh di balik pulau, kau menunggu. akulah
pengantin yang lama merindu pelaminan
“duhai pantai yang menyimpan tasbih
jangan panggil lagi pelayar ini kembali
sebelum habis laut kulayari,” bisik perahu
perahu meninggalkan pantai malam ini
dan akan kembali esok pagi
ketika fajar bangun dari bolamatamu
yang menawan
(2)
perahu pun sampai
pada capaimu
hening waktu
bening lautmu
gelombang berbuncah
dalam jiwaku
pada keluasan
tiada lagi nama-nama
yang kutulis di pantai,
di pasir, di bakau-bakau
pada pelayaran ini
aku telah melipat badai
sebagai biji-biji tasbih
dalam kantung jubahku
engkau maha-laut
bagiku berlayar
malam-malam …
(3)
perahu tua yang tertambat itu kini menjelma dalam tidurku
ketika malam berbintang. aku pun menuruni pasir pantai
yang kau hamparkan berabad-abad. “segeralah naik
sebelum banjir datang,” ajakmu.
aku terpesona pada parasmu. malam dicahayai purnama
sewaktu aku buru perahumu, sebelum pantai
pasang. sebelum banjir itu datang …
kutinggalkan pantai dengan segala kecupan. aku pun
mengaliri laut ke dalam gelombangmu
“kaulah laut yang selalu datang dalam mimpiku
membawa perahu dan seribu pulau,” kataku
sambil mengeringkan lautku dalam diri!
perahu tua yang dulu tertambat itu menjelma
dalam diriku. malam kini berdegup di hatiku.
(4)
perahu yang kurindu kini telah berlayar. pantai jadi
kian hening di dalam lembaran peta masa silam
yang kurajah dengan bismillah
aku pun jadi piatu di ujung pasir pantai ini
menanti perahu lain tiba
membawa pesanmu
bertahun-tahun aku menunggu
bertahun-tahun pula aku rindu
pada mahakasih-lautmu
beri aku sebuah perahu
untuk mendedah rahasia pesanmu
(5)
jangan hitung berapa gigil kukalungkan di jubahku
bila kau akan ganti dengan sorbanmu
lalu kurangkai kabut yang lelap di pantai ini
jadi perahu menyeberangi laut mahaluasmu
kuburu nuh, ibrahim, dan isa
yang dikejar-kejar pengkhianat
kucari namaku dalam diri para nabi
sampai usai di diri muhammad
aku kini telah sampai
ke kedalaman laut-Mu
(6)
hanya pada keluasan laut
aku bisa tahu batas pantai
maka kularungi perahu dalam diri
menyerpihi badai demi badai
kulupakan pasir yang telah menumbuhkan bakau,
juga bekas telapak kakiku yang terluka
sepanjang pantai:
senja tadi
lalu kutandai bekas luka itu sebelum malam
menggelepar dalam jaringmu
dan laut melipat tubuhku
serupa memeram anak kepompong
menggeliat pada sabda-Mu
(7)
ku tak pernah takut ketika perahu ini
membawaku ke dalam paling malam
sebab di tanganku seribu tasbih
menguntai namanamamu
yang kupetik dari pohon jiwa
sudah kuselesaikan percintaanku pada pantai,
pada pasir, pada lumpur, dan ilalang
kini giliranku menuju pulau jauh
melipat laut hingga jadi zikirku
subhanallah!
aku jadi imam bagi diriku
di atas perahu ini
menerima titah
langkahku yang patah
(8)
sudah lama tak kulihat iringan panjang
melintas pantai yang luka ini
malam perih, langit payung hitam
dalam gerimis yang tajam
perahu tua yang tersimpan dalam kitab
masih setia menunggu di dekat bongkahan batu
tapi tiada lagi lelaki tua yang selalu melambai
dan menarik iringan panjang itu berlayar
segalanya sunyi
malam mati
di bawah gerimis yang belati
hidup menjadi terlunta
di pantai tak bernama
menatap rahasia segara
“arungkan perahu tua itu,
arungkan. sekali lagi
sebelum banjir melumat,” kata anak itu
pantai pun kembali sepi
laut pun penuh lelampu
(9)
akulah pelayar yang baru selesai
meredamkan badai hingga perahu kembali
melarung ke laut paling sunyi. di kepalaku langit
membentang, bintang-bintang
mencahayai perjalananku
selesai sudah kuredakan badai yang datang
sejak perahu meninggalkan
pantai. malam bersinar. perahuku menjelma kupu-kupu,
sayapnya ditumbuhi
cahaya. kubiarkan terbang ke langit yang warna.
membawa tubuhku pula…
pantai yang kutinggalkan meranggas bakau
dari payau ini kularungkan
perahu menuju pulaumu yang sunyi. kubangun
firdaus di sana seperti adam
pertama kali merindu kekasih
seperti hawa sebelum terlunta
mengunyah sepanjang masa!
dikawal oleh angin yang lunglai aku
mengendarai perahu sampai
masuk ke dalam igaumu. mengadukan segala
kenangan luka di pantai:
“ini perahu baruku bikinan nuh, izinkan
aku melaut …”
(10)
perahu yang tertambat di bukit tua itu kini menghanyut
ke dalam malamku. “hai
orang berselimut. bangun dan melautlah, selagi angin
pantai dan ombak tak
berbadai,” bisikmu. aku pun bangun lalu menuju perahu
yang sekejap lagi
meninggalkan pantai.
inilah pelayaran malamku sekali lagi. yang jauh. sudah
berapa pulau kulintasi,
sudah berapa kedalaman kurenangi. aku kini makin
mencapai adamu. dalam zikir
aku mabuk. laut membuncah di dalam tarikan napasku.
aku mencari, kau menjumpa.
dari pelayaran malam yang kelam, tak habis-habis
kulafaskan segala dermagamu.
“wahai orang berselimut, bangun dan berlayarlah.
lepaskan pakaian tidurmu,
selimut yang membuatmu mendengkur,” bisikmu
berlayarlah ke keluasan
lautku. malam akan selalu menjagamu. layar akan
melindungimu. lafaskan segala
nama dari dalam hatimu
jangan ingin berhenti. berlayarlah, berlayar!
laut akan membawamu kembali ke pantai. ke bukit tua
yang jauh
tempat perahumu melepas sauh
=ISBEDY STIAWAN ZS=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar