"Ceritakan padaku apa arti duka wong cilik?" tanya Seno pada sang penyair.
Lalu penyair bercerita,
pada mulanya adalah pentungan
yang bergerak semena-mena
pentungan itu melayang sendiri
tanpa diketahui siapa yang menggerakkannya
pentungan itu memukuli kepala-kepala kami
memecahkan kaca jendela rumah idaman kami
merobohkan istana kami
--kalian menyebutnya gubuk--
pentungan itu mengangkut gerobak kami
yang sejatinya adalah nyawa kami
dan menendang-nendang dagangan kami
yang sejatinya adalah napas kami
kami tak takut pada pentungan itu
hingga pentungan menggelindingkan traktor
yang melindas dinding-dinding rumah kami
meratakan denyut napas kami, tempat tidur kami
pentungan itu tertawa sendiri
tertawa terbahak-bahak keras sekali
melotot kesana-kemari
memamerkan seragam beracun
sepertinya pentungan itu hanya berani pada wong cilik
tapi tak punya nyali pada para tikus
yang menggerogoti uang rakyat
tikus-tikus got yang menguasai kantor-kantor pemerintah
pentungan itu jayus pada tikus
pentungan itu
akhirnya kepentung
pentungannya sendiri
ketika orang-orang tertindas
tak ingin makam mbah priok dilindas pentungan
Citayam, 16 April 2010
=ASEP SAMBODJA=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar