Kamis, 23 Juli 2015

DI KASTIL TERAKHIR karya : Goenawan Mohammad


– cerita untuk Dulcinea

 

Ia menghitung umurnya

dari cermin

pada pintu kastil terakhir,

lalu menetakkan pedangnya

ke permukaan yang

menakutkan itu.

 

“Selamat tinggal.”

 

Kaca itu pun menghilang. Dan ia

melangkah ke luar.

 

Di bentangan ladang gandum, ia lihat gulungan jerami

telah disusun, berjajar,

seperti nisan ke arah bukit.

 

Waktu itu belum terasa matahari.

Hanya pagi yang merayap

di pohon-pohon gabus.

 

Pagi adalah depresi yang dingin, Dulcinea,

juga ketika daun menahan kegaduhan burung

pada ulat mati: rangsang-rangsang yang tak akan

kekal,

seperti ingatan makin pendek

yang menyentuh kita.

 

“Kau harus pergi,” laki-laki itu bergumam,

“kau harus pergi dari sini.”

 

Ia mungkin lelah. Ia semakin tahu cinta yang tak

pernah jelas telah ditahbiskan jadi mimpi, dan mimpi

telah ditahbiskan jadi dosa, dan ia takut, atau mungkin

malu, untuk kembali ke kastil itu.

 

Ketika matahari mulai

tampak, ia pun bersandar

pada perisainya yang tak

lengkap. Ia dengar sarapan

disiapkan. Bukan untuknya.

Ia ingin tidur.

Ia bayangkan di kedai itu,

seseorang mengoleskan selai

pada roti dan pada serbet

meja terbentuk huruf sisa

negasi dinihari.

 



2010

=GOENAWAN MOHAMMAD= 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar