di irak, di kilang-kilang minyak, di padang-padang debu, di
gudang-gudang peluru dan mesiu, bahkan doa pun remuk.
tulang-belulang kami tak bisa lagi menggali tanah, tempat kami
menyuling hidup di ladang-ladang minyak, tempat kami
mengilang bom di padang-padang amuk. semua telah jadi api,
dan kami berkobar merebus darah sendiri, membakar-bakar
matahari.
kami pungut pecahan doa di reruntuhan kilang dan gedung,
lalu kami suling jadi patung api, tempat kami mengenang
tanganmu meledakkan matahari di padang paling sunyi. kami
coba menata kembali doa kami yang remuk, tulang-belulang
kami yang luluh-lantak, lalu kami rakit jadi bom dalam diri
kami. setiap saat ia meledak tanpa kami merasa pernah mati.
malam-malam kami dirayapi tank, dicekam rudal, diintai
peluru. diraungi ledakan-ledakan. langit pun pecah. tanah
terbelah. dan kaki anak kami patah. dan kaki anak kami patah.
dan hati anak kami pecah. dia menangis. tapi yang terdengar
dari isak tangis anak kami adalah bisik tertahan di raung sirine
perang: orang-orang mati doa di kilang tangisku. orang-orang
mati doa di kilang tangisku.
ya. kami coba menata kembali doa kami yang remuk, tulang-
belulang kami yang luluh-lantak, lalu kami rakit jadi bom jadi
rudal jadi nuklir dalam diri kami. setiap saat ia meledak tanpa
kami merasa pernah mati.
2003
=JAMAL D. RAHMAN=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar