Minggu, 05 Juli 2015

DI IRAK, BAHKAN DOA PUN REMUK karya : Jamal D. Rahman

 

di irak, di kilang-kilang minyak, di padang-padang debu, di

gudang-gudang peluru dan mesiu, bahkan doa pun remuk.

tulang-belulang kami tak bisa lagi menggali tanah, tempat kami

menyuling hidup di ladang-ladang minyak, tempat kami

mengilang bom di padang-padang amuk. semua telah jadi api,

dan kami berkobar merebus darah sendiri, membakar-bakar

matahari.

 

kami pungut pecahan doa di reruntuhan kilang dan gedung,

lalu kami suling jadi patung api, tempat kami mengenang

tanganmu meledakkan matahari di padang paling sunyi. kami

coba menata kembali doa kami yang remuk, tulang-belulang

kami yang luluh-lantak, lalu kami rakit jadi bom dalam diri

kami. setiap saat ia meledak tanpa kami merasa pernah mati.

 

malam-malam kami dirayapi tank, dicekam rudal, diintai

peluru. diraungi ledakan-ledakan. langit pun pecah. tanah

terbelah. dan kaki anak kami patah. dan kaki anak kami patah.

dan hati anak kami pecah. dia menangis. tapi yang terdengar

dari isak tangis anak kami adalah bisik tertahan di raung sirine

perang: orang-orang mati doa di kilang tangisku. orang-orang

mati doa di kilang tangisku.

 

ya. kami coba menata kembali doa kami yang remuk, tulang-

belulang kami yang luluh-lantak, lalu kami rakit jadi bom jadi

rudal jadi nuklir dalam diri kami. setiap saat ia meledak tanpa

kami merasa pernah mati.

 



2003

=JAMAL D. RAHMAN=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar