Senin, 06 Juli 2015

ANJING DAN BIR KESEMBILAN karya : Agus Noor


Dari balik kegelapan

mata malam itu nyalang,

menatap seekor anjing

yang hidup dalam sebotol bir. 

 

“Anjing ini,” katamu,

“anak jadah pengkhianatan kita.” 

 

Lalu kita suling arak api,

menjadi keganjilan

yang hanya kita pahami sendiri.

Selebihnya, hanya birahi

taklid pada sepi.

 

Kita akan mengingat:

pantai menyimpan gelap,

dusta yang tak terduga.

Perlahan kita memendam birahi,

yang lebih sunyi dari mata orang mati. 

 

Kita menulis dengan kekosongan

dan tangan gamang.

Kata-kata adalah onggokan tulang-belulang

yang telah jadi arang. 

 

Dan dengan arang kata-kata ,

di tembok kota

kita menuliskan grafiti,

tapi nyerinya menyayat jantung sendiri. 

 

Di bawah bulan yang ganjil

(seperti mata juling pengidap kusta, katamu)

anjing dalam botol bir

menatap marah ke arah kita;

dua pendusta yang bersikeras percaya

pada kebaikan dunia. 

 

“Sebuah kota

yang seluruh penduduknya

terserang anjing gila,

mungkin menarik sebagai cerita.” 

 

Tapi di kota penuh pendusta,

siapa lebih jadah:

anjing gila ataukah kita?

Lalu aku bercerita tentang revolusi. 

 

Revolusi adalah anjing

yang memakan kesedihan

anak-anaknya sendiri. 

 

“Saat ini aku tak butuh revolusi,” katamu.

“Aku butuh pembalut. Aku lagi menstruasi.”

 

Kujawab: itu menyedihkan bagi laki-laki.

 

Seolah lidah saling bersentuhan,

pikiran kita yang basah menjelajahi

langit; kuburan bermilyar galaxy mati.

 

Kau menunjuk:

sembilan bintang terang,

rasi yang belum terkenali.

“Barangkali, bintang itu menandai,

kelak, kita mati sebagai Wali”

 

Tapi, tak seperti perjamuan penghabisan,

pada botol bir kesembilan

aku menjauh dari pantai.

Meninggalkanmu sendiri.

 

Di kejauhan silhuet kota gemerlapan.

Terdengar ribuan anjing melolong,

 

dalam jantungku.



 

2013

=AGUS NOOR=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar