Di negri tropis kematianmu, aku sabitkan bisikan.
Bersama gaung gerhana, hari-hari tuaku yang tak bertuan
mengembara, memercikkan gema.
Siapa kira bintang yang setia hanya tinggal hitam.
Hujan makin kental, membakari tatapanku yang tinggal buta.
Tikus-tikus tewas tanpa kenangan.
Fantasi-fantasiku pucat, murung, orgasme percuma.
Bagai granat, kerinduanku yang samun bersiledakan,
menghidupkan kembali doa-doa seribu kejahatan.
Tanpa bulan, aku pun mabuk, tapi seluruh udara menggigil,
meniadakan suara.
Kau potong rambutmu bagai pohonan dirumpangkan taufan.
Waktu memendek, segenap dendam merabunkan usia.
Aku purba tanpa senggama.
Burung-burung raib dari pikiran.
Sebab segenap iklim sekarat, meski puting mungilmu
yang bengal telah membirukan Sorga. Cuaca kini cuma tinggal dingin
tanpa pejalan. Kota-kota yang kuyup dalam genangan
memanggil napas para pelacur melampaui nyawa.
Demikianlah di mana-mana kabut membuka kutangnya
melampaui seluruh rasa sakit termuram.
Aku hunuskan pelirku bagai kelewang.
Kelak kau buka celana dalammu seumpama ajal!
Kekosonganku jadah. Arwahku memaki-maki Neraka.
Keterpencilanku melesat, melemparkan hantu-hantu tanpa kepala.
=INDRA TJAHYADI=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar