Jumat, 04 September 2015

SURAT-SURATKU KEPADA GUSTI NARA karya : Ediruslan P. E. Amanriza

Masih ingatkah engkau surat pertama yang kukirim kepadamu. Di

sehelai kertas kumal kutulis dengan pensil, di sana kunyatakan :

Gusti Nara aku cinta kepadamu.

Dan di dalamnya kuselipkan uang 50 sen.

Kau pun berlari ke bawah pokok asam di kaki bukit, dengan hati

berdebar kau membacanya. Tapi seorang kawanmu akhirnya men-

jadi pangkal bala, ia mengadukan hal itu kepada guru. Kau masih

ingat guru merotan telapak tanganku?

Aku menjerit dan melompat dari jendela.

Sejak itu aku tak datang-datang lagi ke madrasah.

 

Sekarang rumah sekolah di kaki bukit itu sudah rubuh. Tapi

pokok asam - tempat pertama kau membaca suratku dan membe-

lanjakan uang 50 sen kepada pecal mak Siti - masih berdiri dengan

kukuh, dan aku pun masih ingat kepadamu.

 

Di landai bebukitan itu kini tumbuh pohon dan ilalang. Anak-anak

tidak lagi bermain layang-layang seperti ketika landai itu masih

tanah lapang dan aku di sana termangu menantimu dari ladang.

Nara, mereka semua sudah jadi dewasa - tentu - dan tinggal di

Jakarta.

 

Terakhir kudengar kau di Waterford-Connecticut menjadi guru.

Dan si bule, senator yang suamimu itu akan mondar-mandir Con-

necticut-New York. Suratkabar selalu memberitakan kecamannya

terhadap perang Indochina ke II, tapi lupa pada kesepianmu. Dan

kau pun tak pernah menulis ke Indonesia, kepadaku. Sedang aku

tahu pasti murid-muridmu tak cukup memberikan keceriaan ke-

padamu. Lantas kau mencoba melerai kesepian itu dengan mem-

baca novel-novel Agatha Christy, Emile Zola, Lady Chatteley's

Lover-DH Lawrence dan Papilon Henri Charriere serta kakek tua

Hemingway tapi kau lupa membaca Profil and Courage JF Ken-

nedy.

 

Dan tidak kau temui di sana desah cemara di Bulak Sumur, debur

ombak pantai padang tidak seperti di Dover Beach.

Meskipun pasti kau tidak akan membenamkan tangisan ke bantal-

bantalmu yang harum. Kau tidak lagi cukup remaja untuk itu

terlebih-lebih sangat berbahaya bagi penyakit matamu.

 

Tapi juga aku tak dapat menceritakan kebanggaan kampung kita.

Ladang-ladang di sini sudah tak ada lagi. Tanah-tanahnya sudah di-

beli sebuah maskapai perminyakan.

Highway sepanjang Bukitbarisan itu tak jadi siap. Menteri pem-

bangunannya ditangkap, terlibat korupsi. Setelah itu tak ada lagi

yang berniat meneruskannya.

 

Meskipun negeri pekan kemis di kaki bukit kawin itu sudah men-

jadi objek pariwisata tapi Mursal Esten dalam pemilihan tahun lalu

ditolak menjadi menteri perdagangan. Ia kini berdagang hasil-hasil

ukiran kawan-kawan yang tak tamat ASRI.

 

Wisran sudah meninggal, jabatan terakhirnya ketua RT di lapai.

Tapi salah seorang anaknya memimpin tonil keliling.

 

Leon Agusta penyair yang gondrong itu sekarang di Kuala Lumpur,

ia menjabat rektor pada universiti kebangsaan.

 

Wunuldhe Syaffinal berhasil menjadi penyair terkenal, ia telah

pun menulis beberapa novel yang sangat laris di negara-negara

ASEAN, tapi gagal menjadi polisi.

 

Abrar Yusra dan Chairul Haran sudah pindah ke Lubuk Alung

berkedai di pinggir jalan.

 

Rusli Marzuki Saria dan Hamid Jabbar kini memimpin pesantren

wanita di Kayu Tanam.

 

Tapi nasib malang menimpa Ibrahim Sattah, ia tenggelam dalam

perjalanan antara Laut Cina Selatan dan Tanjung Pinang tanpa

menyandang salib.

 

Irsyadi Nurdin Yassan kehilangan satu suku kata namanya kemu-

dian kehilangan nyawa.

 

AA Navis sekarang memimpin Horison. Majalah sastra dan kebu-

dayaan itu sudah beroplag puluhan juta dan menjadi bacaan wajib

di Universitas Riau.

 

Seluruh seniman besar yang di Jawa dulu – yang masih hidup –

sudah menjadi pembesar dan kini mereka mengerjakan apa yang

dulu ditentangnya.

 

Yang lain-lain sebagaimana adanya terlihat pada negeri sedang ber-

kembang : bencana alam

                bencana manusia

 

Nara, masih ingat kau anak-anak Koes Plus?

pada sebuah bait dari Nusantara, mereka bernyanyi:

                        “tanahnya subur seperti tubuhku”

Dan tubuh mereka yang menyanyikan itu ceking-ceking.

 

Gusti Nara,

Aku sampai kini belum juga nikah, meskipun dokter bilang aku

tidak impoten tapi orang-orang tua kalau tidak kaya di Indonesia

tidak laku.

Kudengar juga kau tak punya anak, mandul. Tak apa.

 

Kalau sekali ada kesempatan dalam hidupmu kembali ke kampung

dan umpamanya aku sudah tiada. Lihatlah sebuah rumah di kaki

lembah itu. Di halamannya kutanam sejuta bunga yang belum

kuberi nama, di landai bebukitan itu kutanam cengkeh dan kulit

manis, sebuah kolam di bawahnya hidup bermacam-macam ikan.

 

Tolong kau uruskan ke penghulu dan camat sertipikatnya agar

tanah ini jangan sempat diambil maskapai perminyakan itu, mes-

kipun lautan minyak di bawahnya berombak dengan dahsyatnya.

 

Gusti Nara,

Cuma itu pesanku

Aku sudah sangat tua

Kalau umurku masih dalam beberapa tahun ini tentu aku

akan menyurat lagi kepadamu

Barangkali saja kau mau tahu tentang perkembangan musik pop

di kampung kita

 

Gusti

Kembalilah ke Indonesia



 

1975/1978

=EDIRUSLAN P. E. AMANRIZA=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar