kau tersenyum
setelah itu
kaukirim airmata
sampai ke akar-akar
jadi amunisi
yang meledak siang itu
selagi nyala matahari
basuh tubuh jalanan
dan kaca gedung pecah
tubuh-tubuh melepuh
bagai pohon tumbang
menjelma arang
lalu orang tua itu
kembali kecewa
menanti cerca
(ia selalu jadi boneka
di antara ledakan-ledakan)
09-10/09/04
=ISBEDY STIAWAN Z. S.=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar