Sabtu, 25 Juli 2015

SUNGAI BARITO karya : Ahda Imran

Sungai ini seolah tak bergerak

tak mengingatkanku pada negeri di mana pun

di Muara Kuin aku menemukan tubuh perempuan

adalah perahu. Membawa limau, pisang, kelapa,

semangka, dan labu. Mereka berkerumun,

bergumam, mendayung

 

Keringatnya jatuh di air

 

Alun sungai, perahu beradu

dan bergesekan, terapung. Di kejauhan deretan

gudang-gudang kayu, ibu yang menyabuni

anaknya, lelaki yang menggosok gigi,

dan seorang gadis yang keluar

dari dalam air

 

Sungai ini tak membawaku ke mana pun

Oyos dan Ari berdiri di atap perahu

dengan tustelnya. Di perahu yang lain Joni

melambai. Saut berdiri dengan rambut gimbal,

mirip hantu sungai. Seiko, gadis Jepang itu,

sibuk mencatat hikayat Suriansyah, leluhur

negeri Banjar. Katrin menelepon

Oma-nya di Jerman

 

"Kata Oma, di Meksiko ada juga pasar

seperti ini."

 

Aku memesan kopi dan mengunyah

pundut dari warung perahu yang mencuci

gelas dan piringnya ke dalam sungai

kubayangkan keringat perempuan-perempuan

atas perahu itu masuk ke dalam tubuhku,

 

mendayung rohku ke lubuk air

 

Oyos dan Ari masih memotret. Seiko

masih mencatat Suriansyah. Katrin masih

bercerita tentang Oma-nya, tentang sungai

di Meksiko. Tapi sungai ini tak mengingatkanku

pada siapa dan pada tempat di mana pun

perempuan-perempuan atas perahu itu telah

membawaku ke dalam tubuhnya

 

Di Muara Kuin,

keringat kami jatuh di air ...



 

2007

=AHDA IMRAN=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar