Sungai ini seolah tak bergerak
tak mengingatkanku pada negeri di mana pun
di Muara Kuin aku menemukan tubuh perempuan
adalah perahu. Membawa limau, pisang, kelapa,
semangka, dan labu. Mereka berkerumun,
bergumam, mendayung
Keringatnya jatuh di air
Alun sungai, perahu beradu
dan bergesekan, terapung. Di kejauhan deretan
gudang-gudang kayu, ibu yang menyabuni
anaknya, lelaki yang menggosok gigi,
dan seorang gadis yang keluar
dari dalam air
Sungai ini tak membawaku ke mana pun
Oyos dan Ari berdiri di atap perahu
dengan tustelnya. Di perahu yang lain Joni
melambai. Saut berdiri dengan rambut gimbal,
mirip hantu sungai. Seiko, gadis Jepang itu,
sibuk mencatat hikayat Suriansyah, leluhur
negeri Banjar. Katrin menelepon
Oma-nya di Jerman
"Kata Oma, di Meksiko ada juga pasar
seperti ini."
Aku memesan kopi dan mengunyah
pundut dari warung perahu yang mencuci
gelas dan piringnya ke dalam sungai
kubayangkan keringat perempuan-perempuan
atas perahu itu masuk ke dalam tubuhku,
mendayung rohku ke lubuk air
Oyos dan Ari masih memotret. Seiko
masih mencatat Suriansyah. Katrin masih
bercerita tentang Oma-nya, tentang sungai
di Meksiko. Tapi sungai ini tak mengingatkanku
pada siapa dan pada tempat di mana pun
perempuan-perempuan atas perahu itu telah
membawaku ke dalam tubuhnya
Di Muara Kuin,
keringat kami jatuh di air ...
2007
=AHDA IMRAN=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar