Sabtu, 25 Juli 2015

SEPANJANG JALANAN karya : Ahda Imran

Kutulis sajak ini di atas seekor kuda

ketika lorong-lorong angin menghembuskan

suaramu jauh ke ruang-ruang bawah tanah

di kejauhan mereka membuat senja

dari tanah air penuh bendera. Malam

seperti mulut para penghasut

 

Ketahuilah, sayang, kafe-kafe yang tenang

bukan lagi rumahku. Akulah penunggang

kuda dari negeri malam itu. Negeri

di mana dendam mesti dinyatakan,

menjadi hasrat untuk menemukan kata-kata

dari setiap butir debu di rambut anakku

 

Kuserahkan tubuhku pada semesta

kesedihan, seperti kegembiraan yang juga

datang padaku. Kuhadiri makan malam

para pejabat, anggota parlemen

dan panglima militer, rapat-rapat partai,

dan pertunjukan teater. Kau tahu,

mereka menganiayaku, hanya karena

aku masih punya telinga

 

 

Juga ketahuilah, sayang, ketika sampai aku

pada bait ini, kudaku sedang berlari kencang

melebihi kata-kata yang menjemput para penyair

dan paderi di ruang-ruang bawah tanah itu

kumasuki kota dan perkampungan dari sudut

yang paling tak terduga, ketika orang-orang

berkomplot membuat tanah air yang lain

dari sejarah

 

yang tak pernah punya telinga



 

2004

=AHDA IMRAN=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar