Jumat, 24 Juli 2015

MASYARAKAT ROSA karya : Afrizal Malna

Dari manakah aku belajar jadi seseorang yang tidak aku kenal, seperti belajar menyimpan diri sendiri. 

Dan seperti usiamu kini, mereka mulai mengira dan meyakini orang banyak, bahwa aku bernama Rosa.

 

Tetapi Rosa hanyalah penyanyi dangdut, yang menghisap keyakinan baru setelah memiliki kartu nama. 

Di situ Rosa menjelma, dimiliki setiap orang. 

Mahluk baru itu kian membesar jadi se-  jumlah pabrik, hotel, dan lintasan kabel-kabel telpon. 

Rosa membuat aku menggigil saat mendendangkan sebuah lagu, menghisap siapa pun yang mendengarnya. 

Rosa membesar jadi sebuah dunia, seperti Rosa mengecil jadi dirimu.

 

Ayahku bernama Rosa pula, ibuku bernama Rosa pula, seperti para kekasihku pula bernama Rosa. 

Mereka memanggilku pula sebagai Rosa, seperti memanggil diri dan anak-anak mereka.   

Dan aku beli diriku setiap saat, agar aku jadi seseorang yang  selalu baru.

 

Rosa berhembus dari gaun biru dan rambut basah, dari bibir yang memahami setiap kata, lalu menyebarkan berlembar-lembar cermin jadi Rosa. 

Tetapi jari-jemarinya kemudian basah dan membiru, ketika menggenggam mikropon yang menghisap dirinya. 

Di depan layar televisi, ia menggenang: “Itu adalah Rosa, seperti menyerupai diriku.” 

Gelombang Rosa berhembus, turun seperti pecahan-pecahan kaca. 

Rosa menjelma jadi lelaki di situ, seperti perempuan yang menjelma jadi Rosa.

 

Rosa, tontonlah aku. 

Rosa tidak akan pernah ada tanpa kamera  dan fotocopy. 

Tetapi kemudian Rosa berbicara mengenai kemanusiaan, nasionalisme, keadilan dan kemakmuran, seperti me- nyebut nama-nama jalan dari sebuah kota yang telah melahirkannya. 

Semua nama-nama jalan itu, kini telah bernama Rosa pula.

 

Hujan kemudian turun bersama Rosa, mengucuri tubuh sendiri. 

Orang-orang bernama Rosa, menepi saling memperbanyak diri. 

Mereka bertatapan: Rosa ... dunia wanita dan lelaki   itu, mengenakan kacamata hitam. 

Mereka mengunyah permen  karet, turun dari layar-layar film, dan bernyanyi: seperti lagu, yang menyimpan suaramu dalam mikropon pecah itu.

 



1989   

=AFRIZAL MALNA= 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar