Sebab kau sebuah pintu.
Di ujung peluhku.
Setiap kali aku bergegas kerjaĆ½.
Bermain di lingkaran usia.
Segala harap telah menggertap. “Cepatlah pulang. Rumah selalu rindu akan sentuhanmu,”
dan nyatanya kita bahagia, meski berkali sedih mengiris pedih.
Di ujung peluh itulah, aku tak benar-benar rampung membaca segala peristiwa.
Selalu mekar dalam akar kelakar.
Biar tumbu di setiap gerhana jalan.
Tentang rumah yang kita susun bersama, dari peluh ke peluh.
Tak selesai dikayuh.
Kebon Jeruk, 2014
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar