Jumat, 06 November 2015

MUSIM KAWIN-KAWINAN karya : Isbedy Stiawan Z. S.

biarkan orang-orang

mengingat masalalu

bersandar di tiang

dari rumah panggung

memandang kehijaun

kebun kopi dan lada

atau sekadar menikmati

musik sungai

yang kini hanya kenangan

bahkan di kota besar ini

yang cuma satu museum

tak lagi menyimpan

kenangan-kenangan itu

masakanak yang pecah

artefak telah retak

ibu kehilangan tutur

dan para remaja

bermandi cahaya…

biarkan mereka

bermain dengan angan

dan kenangan-kenangan

barangkali itu menyenangkan

meski juga menyengsarakan

sebab apatah nikmatnya

bercumbu bayang-bayang?

(sedang kota kita ini sudah tak memberi tanda lagi,

tiada yang mampu kaukenali, telah penuh

oleh warna-warna—sebagai kota yang akan

terus berbenah menjadi ribuan jalan,

ratusan hotel, relestat, mal, ruko, dan

taman-taman serta kolam renangnya…

lalu di mana akan kau letakkan masalalu

sebagai kenangan bahwa kau pernah

dilahirkan di sini dengan tumpahan

ketuban dan darah dan ariari

kemudian setiap malam

sepekan lamanya

dihidupi lampu sentir di tepi rumah?)

kota terus gerak dan berpindah

meninggalkan dan melupakan

masalalunya, kenangan-kenangan

menyenangkan: mainan

kanak-kanak, gobaksodor, engrang,

ataupun petak umpet

di bawah bulan bugil bulat

atau menuju perkebunan karet

memunguti biji-bijinya

lalu atas-bawah

dan bagian samping

dilubangi untuk kitiran

Dan bila musim kawin-kawinan

kita punguti biji-biji salak

kemudian dibuat cincin

untuk persembahan

pada mempelai perempuan

ah, biarlah mereka mengenang

ketika mencari pasangan

di saat menjaga damar

malam-malam perhelatan

sambil menulis dan

berkirim surat

di bawah remang api damar

yang bertahan hingga fajar

(tapi kota kota kini sudah melupakan

hutan damar, perkebunan sawit,

dan kenangan-kenangan percintaan.

hotel-hotel adalah hutan damar

yang menyediakan gemerlap

perkebunan sawit telah jadi kota pula

yang membuatmu bisa bertemu

pacar tiga kali lebih sehari….)

karena itu, biarkan orang-orang

itu mengenang masasilamnya




wayheni 2003,2005--bandarlampung 2005-2006

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

LONCENG DALAM DAGINGKU BERNYANYI karya : Isbedy Stiawan Z. S.

lonceng dalam

dagingku bernyanyi

tubuhku pun menari

tanpa lantai

irama samsara

tabuhan tifa

warna dan suara

menyatu pekat

--hitam kulitku,

putih tulangku—

di tanah air

yang memerah

getar selalu mekar

tumbuh jadi pinang

di bukit-bukit kapur

di hutan tanah hitam

di kota penuh merah

alamat kelam

berzaman-zaman

: diperah….

alangkah baiknya

aku merantau saja

bila tanah lain

mendirikan rumah

lonceng dalam dagingku

kini bernyanyi. pilu

--memendam rindu

pada pinang

dan kapur:

dirajah—

semalam aku pergi




2006

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

ASAM URAT karya : Isbedy Stiawan Z. S.

tengah malam aku terbangun

mendapati kakiku bengkak

dan sangat nyeri. “aku akan

lumpuh di sisa hidupku,”

kataku amat khawatir

sambil menatap istriku

berwajah cemas pula.

aku tak bisa lelap

sepanjang sisa malamku

memegangi kakiku yang

terus membengkak

dan nyeri. aku seperti

menatap ribuan ulat bulu

merayap di kaki itu, membuka

jalan ke tempat-tempat

tak kukenal dan pekat

-segala muara maksiat-

katamu, kemarin senja

hotel-hotel berbintang

kurasa sangat kelam

setiap waktu kudengar

tawa goda para perempuan

yang keluar dari kamar-kamar

rias: hendak pula merias

tubuhku,

-sauna, mandi

kucing…-

kau mau minum susu?

“kakiku nyeri, terus membengkak.”

(kata orang, asam urat…”

ah, esok pagi kau akan

lihatku pakai tongkat!

(tapi, dengan tongkat itu

aku sulap dunia jadi nirwana)




10-13 April 2006

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

LELAKI RANTAU karya : Isbedy Stiawan Z. S.

setelah itu cuma igau

lelaki rantau pulang

hanya melepas kerinduan

tentang kenangan di samping rumah

museum yang menyimpan silsilah

atau lembar-lembar sejarah,

hutan bakau, ladang cengkih,

kebun kopi, dan hutan damar

yang kini hilang tenar

tanah hitam

sisa arang

udara berselimut asap

bagai kabut di tanah eropa

namun karena rindu

setiap waktu mandi kabut

setelah itu cuma igau

bahwa tanah kelahiran

segala muara kenangan

ingatan yang mesti diambil lagi

maka ia buru ke sudut-sudut

hutan damar, kebun kopi, ladang

cengkih, atau hutan bakau

- seperti penyelamat lingkungan

yang jadikan lahan mangrov –

sebagai buku kenangan

namun museum di kota tetap lengang

dan lelaki rantau berdiri di tangga rumah

menyerpihi setiap silsilah

mencari-cari sejarah yang raib

membuang jauh segala aib

“kita punya banyak warisan

melebihi kemegahan kota

kenapa tak dijaga dan harus dilupakan?”

lalu ia sebut adin, atu, kyai, udo,

datuk, dan nyai[2]

untuk duduk bersila di lamban[3]

menghitung yang hilang

mengumpulkan perlawanan!




2005/2006

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

HUTAN SANGSAI karya : Isbedy Stiawan Z. S.

tapi, harus kaulupakan

seluruh peristiwa

yang kaulalui kemarin

melipat masasilam

bukan berarti

mengingat pulang

sesudah berpanjang

langkah melenggang

seperti burung terbang

lalu lupa sarang

kecuali hinggap

di kawat-kawat listrik

atau pohon tak rindang

sekadar istirah

setelah itu

kembali terbang

mencari remang

di mana kau simpan

seluruh masasilam

ketika jalan

pulang makin kelam?

tersasar di artefak,

nama-nama jalan,

arus sungai,

dan hutan-hutan

yang dulu, katamu,

telah menulis usiamu

di seluruh rambut

hingga berlumut

- di rantau

alamat payau

terasa jauh

kampung masa kanak

kini makin bergetar

membuatmu gemetar

dan terpukau:

“di mana aku ada?”

bisikmu

lekuk sungai

hutan sangsai

tak pernah

sampai

ke dalam diri!




2005-2006

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

KUBERI SEHALAMAN karya : Isbedy Stiawan Z. S.

: cerita buat Afrizal Malna

 

untukmu sehalaman kuberi

kau bangun kebun, rumah,

dan sesekali ke taman

sekadar canda

di situ setiap waktu

akan turun matahari

atau aroma bulan

tapi usah berlayar

kau akan terdampar

untukmu kuberi sehalaman

dari pekarangan samping

lalu bangun rumah

setiap malam kau tertawa

memandangi bulan

yang leleh di lehernya

mengirim kota-kota

dalam lipatan

celana dalam

kuberi sehalaman untukmu

ciptakan mimpi-mimpi

dari pepohonan




07 Maret 2005: 10.50

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

JELANG SARAPAN PAGI karya : Isbedy Stiawan Z. S.

batu itu tak pernah diterbangkan

kecuali seusai tanganmu melontar

jadi hujan. sebagai sayap malaikat

terbang ke dalam ranjang.

membuka matamu,

menciptakan sayap bagimu hingga

jadi kupu-kupu. hinggap di pucuk-

pucuk mawar. gugur bunga tujuh warna

yang kaupetik sebagai doa

bukan, kata sesuara

berupa burung

bersarang di jendela,

ke peraduan

- ahai, aku kini hamil

tanpa belulang,

yang mengendus sejak di taman

(kemarin ibu-bapak dirayu

membuatnya mengembara

sepanjang tahun seluas semesta!)

dan lahir di peraduan

anak-anak cerca itu

kini kubaca

setiap jelang sarapan pagi




2004/2005

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

SEBAGAI POHON karya : Isbedy Stiawan Z. S.

ke mana tuah

sehingga lupa

pada jampi?

aku tumbuh dari akar

membesar sebagai pohon

selimutmu dari semua terik

dan payung dari segala air

di lahan ini

kita sama-sama pohon

tegak karena akar

dan tanah yang subur

bunga mekar

jadi buah

ke mana tuah

sehingga lupa

pada jampi?

ayat-ayat mengekal

kalimat-kalimat bebal

muntah dari jampimu

di siang yang penat

ini waktu

aku tak boleh kalah

seperti sapi

ke luar pacuan,

maka kukembalikan jampi

sebagai teluh

- mati




2005.06-07

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

Rabu, 04 November 2015

AKHIRNYA KEBALIK HATIMU JUA AKU KEMBALI karya : Merpati



Sambil membunuh sepi, kukibarkan rindu

Kubasuh angin masa lalu, hingga berkilau bayang

Aroma duka merunduk, hilang terbawa embun

Menyisakan wewangian kasih di sekujur nama mu

Aku terbungkus seribu kembang asmara yang tak lelap

Dan kembali menghidupkan jasad cinta yang tertidur

 

Di luar jendela lautan setenang kehidupan

Masih kulihat ombak yang menoleh sesaat

Sebelum melambaikan salam perpisahan pada pantai

Sedang angin tak henti melagukan bayanganmu

Membawakan desiran halus direlung kalbu

Aku terpasung dalam kesunyian tipis

Diantara selaksa gurat kenangan yang sempurna

 

Akhirnya kebalik hati mu jua, rasa ku kembali berlari

Menggenggam perih kesejatian cinta yang tak hendak luruh

Meski berkali gelombang menghapus dan melenyapkan peta dirimu

Walau beribu kali angin telah mencoba menerbangkan namamu

 

 

 

=MERPATI=

 

DEBU SILAM karya : Merpati

  

Kata menepi didenyut alir

Merentak luruh dibasuh hujan

Bilah bilah riuh rebah dirumput basah

Menatap kosong lambaian sekarat perdu liar

Rindu terbit dari rahim sepi yang syahdu

Melukis beribu peta duka di muara jiwa

 

Syair mulai tertatih patah diujung bayang

Luruh bersama dengung rindu mengawang

Debu silam kian membuncah dari riak sepi

Melepahi jengkal rasa dengan buih perih

Sedang senyuman kekasih tak jua raib kebalik gerimis

Menggenangkan jiwa keujung tanya tak bermuara tak berhulu

 

 

 

=MERPATI=