Rabu, 18 November 2015

CINCIN DI RUANGAN karya : Isbedy Stiawan Z. S.

jangan tinggalkan cincinmu di ruang ini

karena aku tak mau diusik oleh tanda

yang membuat kenangan selama ini

terbelah

cincinmu hanyalah tanda. gairah

saat kini yang bukan kenangan

ataupun harapan. sedang aku

selalu mengharap, sementara

kau melepas;

burung-burung akan singgah

jika senja memburam. mendiami

sarangnya untuk sesaat istirah

lalu esok pagi akan kembali

menembus angkasa,

menemui birahinya

karena itu baiknya kenakan cincinmu

sebelum kau lupa, dan kenangan itu

akan tertinggal di ruangan ini

sebagaimana sisa percakapan

dan sedikit pertikaian soal

cinta dan dusta

di plafon labirin

yang mengering

terekam tubuh kita

dan kau tahu

itu bukan percintaan

tapi sebuah tikam




2006

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

RUMAH IKAN karya : Isbedy Stiawan Z. S.

demikian kau jadi lelampu

di sepanjang tepi pantai

sebagai aroma lain

sengat laut yang asin

“mari singgah

sejenak istirah

segala rasa sedap

yang datang dari laut

tersaji dan boleh dipilih,” hasutnya

lalu ia jadi lelampu pula

sebagai penerang

dalam temaram

lesap di gumulan desah

“lupakan penat

mari berkhianat,” ajaknya

tapi ia sekejap menjenguk

lalu pergi bersama kantuk

tak ada apa-apa di sini

selain elusan lembut

angin laut

yang katamu rasanya

lebih sedap dari coto

atau sop konro

demikian, ajaknya

setiap kau lalang di tepian

sekadar ingin mampir di rumah ikan

hingga menguyup malam

menggusur cintamu, kekasih




makasar, 7 september 2006

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

IA AKAN MENGECUPMU karya : Isbedy Stiawan Z. S.

jika malam tak sampai ke peraduanmu

ia akan datang memelukmu

dan sebagai malam,

ia labuhkan waktu

di dinding dadamu

menghitung butiran matahari

di keningmu. Melebar halaman

dipenuhi tulisan tentang senja

atau magrib yang raib

ia akan mengecupmu

jika malam tak datang ke tidurmu

adakah senja akan ingkar

burung-burung tak ke sangkar

dan mambang tak pulang?

ia akan menciummu

seperti malam

yang mendekapmu

untuk melelapkan

entah pagi kau terbangun

atau cuma ngungun

memandangi peraduanmu

berlayar…




september 2006

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

LAUT AKHIR karya : Isbedy Stiawan Z. S.

sebagaimana laut punya akhir: pantai atau muara

dan pada selangkangan bakau,

segala pusat risau

resah dan gelisah di sematkan

tapi bulan ini, yang katamu,

lebih mulia dari seribu purnama

akankah memiliki akhir

mengalahkan umur?

sudah 48 kali purnama!

getar doa

malam-malam ganjil

iktikaf yang gigil

halaman lambung

yang selalu kosong

(ada juga dahaga

yang selalu dijaga)

sepanjang siang

akankah punya akhir?

tapi orang-orang dari jauh

mengenakan pakaian lusuh

membikin kota penuh

berdatangan dengan

kedua tangan selalu menadah

seperti ia faham

di bulan, yang katamu,

lebih mulia dari seribu purnama

banyak orang murah tangan

melemparkan sedekah

dari setiap tubuhnya

mengalirkan laut

langit merestui

penghuni langit turun

bersama sayap-sayap berkilau

hendak meminangmu

dan getar doa

juga tangan yang menadah

akan pula dibawa terbang

kau tahu ke mana akhir

segala pengembaraan

kalau tak ke taman-taman

yang dulu sekali ditinggalkan?

beri salam pada malaikat

sebelum laut sampai ke tepian

akhir segala perjalanan:

pantai atau muara,

juga pada selangkangan bakau:

segala pusat risau

untuk dilelapkan….

lalu pantai atau muara

akan membuka halaman

bagi sujudmu selepas subuh

sebelum matahari di kepalamu

benar-benar meluruhkan ubanmu

demikian laut punya akhir

bulan yang memancarkan

kemuliaan seribu purnama

tak henti pada pantai atau muara,

bahkan di selangkangan bakau

kau akan mekar

cahayamu menguar

melebihi tahun-tahun usia

getar doa

selalu memanggil-manggil




september-oktober 2006

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

KOLAM SEGALA MUARA karya : Isbedy Stiawan Z. S.

di matamu tumbuh

kolam, dan aku

jadi angsa di sana:

merenangi hingga

tepian…

dan kuingin

kau tetap kolam

muara segala hujan,

ibu semua ciuman

daun-daun bagai

rambutmu melambai

bagi petualang

yang pergi, yang datang

“tapi, biarkan aku

jadi lautan

menyimpan kesepian.”

Lautan? Ia telah

menenggelamkan kota

dan kekasih lama

di matamu

selalu kutemukan

pepohon yang

membuatku lelap

di sana, aku mau menetap

terima segala sayapku

yang kini sudah melipat

ingin mendekap

kau kolam

segala muara




bandung-lampung, Mei 2006

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

TERSASAR KE DALAM SENYUMMU karya : Isbedy Stiawan Z. s.

Senja, kota basah

kita besijingkat

susuri jalan

di bawah guguran

slayer melingkar

di lehermu jenjang

berkibar pada cuaca

senja tak berwarna

lalu sebutir tahilalat

di pipi kirimu

ingin biarkan aku

masuk jelajahi

rahasia senja

kota kehilangan

aroma kembang

tapi selalu saja

aku mau tersasar

ke dalam senyummu

dan warna senja

yang rahasia….

jelajahi kota

senja ini

serasa kudapati

warna matahari

luruh di ufuk

dan

aku memetiknya

dari wajahmu

kukecup

bersama guguran

sebelum pamitan




GGM Bandung 21/05-Lampung 23/05-2006

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=


DAN KITA MENGEJA JEJAK karya : Isbedy Stiawan Z. S.

luruh senja

bersama gerimis

dalam debur batu

anakanak menari

sungai menyanyi

melepas baju

terjun ke air

“hari ini aku tak

menangis, mama,”

katanya riang

anakanak ingin

sekali berumah

di air. bangun

bangga di sungai

lalu terjun

ke dalam debur

seperti ikanikan

menyelam-berenang

mencari rumah baru

di luar cuaca

di sini anakanak

jadi ikan

berenang-menyelam

: riang

dan kita

mengeja jejak

mengarifi anakanak

liwat suaranya

barangkali, harapmu,

esok ada yang lelap

di sisi saat tidur

dan terbangun




bandung, 21 mei 2006

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

PERISTIWA DI KALI karya : Isbedy Stiawan Z. s.

hanya perempuan

duduk di sebatang kali

setiap pagi hingga jelang senja

menjaga awan tidak hanyut

terbawa lumpur

dan kembali berubah hujan

basuh tubuh setiap pagi

keramas jelang sore

di kota tiada kali

matahari tak selalu datang

bahkan lebih kerap pergi

sehingga kamar selalu gelap

di sebatang kali

perempuan mandi

memamerkan tubuhhalusnya

ke wajah matahari

: tertawa…

hilang airmata




2006

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

MENUJU SUNGAI karya : Isbedy Stiawan Z. S.

Lelaki menuju sungai

dia hanyutkan impian

kemudian naiki bukit

dan rebahan di tepi

Tatapnya menyapu

seluas jurang

semampu pandang

menanti bayangmu

(entah bila kembali,

sampai senja ganti kelam

hanya terlihat sosok

seperti sebatang lidi)

melayang,

mengalir

Di sebatang malam

sungai menjelma jadi naga

hendak menerkam

sangat lapar

Dan, lelaki itu tertidur

menunggu sungai berair

untuk ia hanyutkan impian

ke lepas semesta

Di tepi jurang

Di bukit paling tinggi

lelaki itu hanya menanti

kabar lain

dari benua lain




Maret 2006

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

JANGAN CARI NAMAKU karya : Isbedy Stiawan Z. S.

jangan cari namaku

di semak atau belantara

tak akan kautemukan

selain bekas langkah

namaku selalu

bertunas di keningmu

sebagai kenangan

lalu kaulupakan

biarlah bekas langkahku

mengeras sepanjang jalan

setiap kaulintasi

akan mencapai senyumku

bahkan di halaman

koran hari ini pun

tiada kausebut namaku

selain bekas ciumanku

yang dulu kaurindu

serupa buah dadu

berputar dan memancar

: kemenangan

ataukah kehancuran

di semak

atau belantara

tiada lagi halaman

memberi tempat

namaku….

jangan cari namaku

karena tak akan kautemukan

selain bekas langkahku

serta sisa ciumanmu

mengekal ketika

mencapai malamku




Maret-April 2006

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=