Senin, 26 Oktober 2015

RISALAH INI karya : Isbedy Stiawan Z. S.

serampung sore, matahari keperekan,

kau pun datang. ragu-ragu…

lancip dagu

setajam garpu

menujah senja!

Lagi ada yang luka

sore ini saat matahari

keperakan. dan kau

datang berwajah malu-malu

tapi, diam-diam

mengalungkan belati

ke lambung hari

apakah ini petaka? tak cuma bencana

yang datang berkali-kali: selepas pagi

atau serampung sore, saat

matahari berwarna perak

dan aku dengan maut tak lagi berjarak

seperti buih dengan air,

“ah tidak, sebagaimana ombak

dan pantai….”

minggu pagi,

gereja belum kembali sepi

atau kau belum melipat sajadah

sehabis duha

ada kudengar serapah

dari ceruk lautan

tiba-tiba datang

: geram?

selepas pagi ini




=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

TENTANG PERJAMUAN karya : Isbedy Stiawan Z. S.

alasan apa aku akan melupakanmu lalu buru persinggahan lain; rumah-rumah
baru, bedeng-bedeng biru. alasan apa aku dapat meninggalkanmu, dan cari lain
paling rindu; tempat-tempat persinggahan yang haru

perjamuan demi perjamuan membuatku tak mampu melupakanmu. setiap yang
tersaji akan selalu membayang wajahmu. telah kucecap lidahmu, tubuhmu yang
daging sudah kugulai sebagai sarden, sate, sop, ataupun gule. “paling tak kusuka
rendang, jadi jangan tanya padaku cara memasaknya,” tukasmu.

lalu alasan apa aku akan meninggalkanmu? kau sudah saji mimpi-mimpiku
pada setiap perjamuan. lalu apa alasanku bisa melupakanmu?

- kau tersaji di setiap perjamuan—pagi, siang, senja, dan malam—yang
kusantap sepenuh lapar


08.10.2008

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

TENTANG PERKAWINAN karya : Isbedy Stiawan Z. S.

segudang sudah cintaku, tapi belum juga aku dipindahkan ke pelaminan. tinggal
sepi mengiris raguku.

jika setiap pertemuan tak pernah ada akhir, apakah cintaku tak akan beralamat
pada pelaminan?

kau selalu janji, aku terus-terusan menanti!



2008

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

TENTANG SETAHUN PERTEMUAN karya : Isbedy Stiawan Z. S.

setahun usia pertemuan ini, sayang, sudah berapa waktu kita lepas rindu? aku datangi
hari-hari sendirimu. kugambar pantai karena kau meminta. kutulis setiap gerak
ombak sebab rindumu pada laut. kukisahkan padamu indahnya pegunungan dan
mekarnya bakau agar kau setia datang ke tepi pantai

jika aku lupa
tapi aku tak akan pernah alpa
kau akan ingatkan dengan suara dari mulutmu
serupa gemuruh ombak.
aku akan datang dan membawamu untuk menikmati pantai:
mengenang ketika pertama kali angin pantai membelai rambutmu, pipimu, bibirmu…
“aku mau hidup layaknya anak pantai, bersamamu,” bisikmu
tapi prahara dan bencana, tak bisa ikhlas
aku mengabulkan mimpimu hidup di tepi pantai



2007-2008

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

TENTANG KABAR RINDU karya : Isbedy Stiawan Z. S.

aku makin mencintaimu.
kau yang imut makin menggodaku saat cemberut.
setiap hari kaukabarkan rindu hingga ingin selalu temu.
menulis getar waktu.
mengukur luas sepi yang dititipmu jika aku pergi.
“esok bawa kembali apa yang kutitip padamu agar tak layu,”
katamu saat aku pamit pulang.
kemudian bibirmu melambai, dan hatiku jadi helai demi helai



1028
=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

TENTANG SETANGKAI BUNGA karya : Isbedy Stiawan Z. S.

ia bawakan untukmu serangkai bunga,
tapi saat kau terima duri bunga itu melukai telapak tanganmu.
“Aku luka, ini darahnya,” katamu sambil menahan perih.
kau biarkan darah di tanganmu hingga mengering:
warnanya tak merah tapi kecoklatan.
apakah ada darah berwarna lain?
tak ada pertikaian soal darah.
seperti para pasien yang tak pernah berteriak
ketika ingin membeli darah beharga mahal,
atau para pendonor akan ikhlas jika diganti uang:
“bagaimana mungkin gratis, aku perlu sate kambing dan vitamin?” kata para pendonor, setelah sepakat harga ia pun memberi darahnya.
“bahkan untuk sepetak kematian, kau harus bayar…”



05.10.2008

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

BILIK SUARA karya : Isbedy Stiawan Z. S.

aku tertipu oleh waktu. ia datang tidak dengan detak. senyumnya
sebilah sekin: “jangan bergerak, jika kau tak ingin mati,” ancammu
sehabis pemilihan raja, siang berhujan dan aku amat haus dan lapar

aku menunggu yang datang, memberiku selembar uang atau janji
apa-apa. akan kuterima dan lalu kumasuki bilik itu:
“menusukmu!”


3.9.08

=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

KARENA RAMBUTKU karya : Isbedy Stiawan Z. S.

selepas hujan petang itu, kuhabiskan rambutku yang membuatmu
jadi gelap. jalan tak lagi punya tujuan. kutu beterbangan dan
hinggap ke gedung dewan, kantor ambtenar, pengadilan, buku-buku
hukum, peraturan pilkada dan pemilu

kiranya karena rambutku, kau tersasar dalam hutan perjudian



2008
=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

SUNGAI KELAHIRAN karya : Isbedy Stiawan Z. S.,

aku seperti dungu. kemarin kau datang padaku untuk berdamai
jika menyambutmu penuh senyum, tapi setelah pintu rumahku
terbuka bagi kedatanganmu kau tujah aku. luka dan darahku
melukis di sungai kelahiran kita. “apakah kita ingin kembali
memerani kabil dan habil? kita berbunuhan di depan ibu?” tanyaku
lalu melarikan lukaku, mengeringkan darahku di rerumput
dekat sungai yang menuju rumah kelahiran

tak perlu kau katakan ingin bermaafan lalu kita berpegangtangan
dan jalan bersisian. ke bukit di mana dulu kita berikrar: “di bumi ini
kita dilahirkan, di sini pula kita bersaudara—meski ibu kita tak satu,
ayah tak bernama—dan membikin jalan hingga ke perbatasan.”

alangkah indah. tangan kita erat berkait. sekin terlipat di pinggang,
tali pinggang tak terkunci. “jika celanaku robek, apakah kau mau
menjahitnya?”

kau tersenyum. mencari rumah baru…



10.2008
=ISBEDY STIAWAN Z. S.=

ANAK GELOMBANG karya : Isbedy Stiawan Z. S.

jika laut tak memberimu tempat
ke mana lagi kau berbaring
jika pantai cuma sediakan singgah
ke payau mana kaulepaskan lengah

di laut ataupun pantai
di payau maupun ladang bakau
apa akan sama untukmu terlelap?

jangan katakan pasti sampai
setelah kau berada di laut lepas
hanya bayang-bayang lampu
atau suar yang samar
sebagai penanda usia yang memar

kau jadi anak gelombang
terempas sebagai bayang



selatsunda 3.11.08-lembang 5.11.08
=ISBEDY STIAWAN Z. S.=